The Love. The Gift.

swchristmascard_top

Kemarin, aku ikut Perayaan Natal oleh tempat aku kerja sebagai freelancer. Dalam acara itu, ada pemutaran film Korea. Jangan protes dulu.. film Korea ini bukan drama-drama cinta seperti di TV – yang ngga pernah aku tonton – tapi kisah tentang seorang anak laki-laki dari Korea yang membantu biaya pendidikan seorang anak Indonesia.

Film itu menceritakan tentang seorang anak Korea yang mungkin waktu itu usianya belasan tahun. Dia lahir sebagai anak multiple disability  – tak punya tungkai kaki, dimana kakinya cuma setengah bagian dari paha sampai atas lutut, dan tangannya berbentuk capit kepiting. Dia berkata bahwa dia ingin sekali punya kaki. Dia kesakitan dan menangis (aku juga nangis nonton film itu) setiap kali dia belajar berjalan. Tapi orangtuanya tetap menyemangati dia bahwa dia bisa berprestasi walau dia difabel. Lalu dia dibuatkan dua buah kaki palsu. Dengan kaki palsu ini, dia mulai mengejar cita-citanya. Dia jago olahraga renang. Medali kemenangannya banyak! Dia akhirnya tumbuh jadi anak yang percaya diri.

Sampai di sini ceritanya biasa aja ya? Kisah sukses seorang anak yang terlahir difabel. Tapi, yang bikin film ini istimewa adalah, anak Korea ini memutuskan untuk menjadi kakak asuh untuk seorang anak dari keluarga yang tidak mampu. Entah gimana dia sampai ke website CI, dimana dia bisa memlih negara mana dan anak mana yang akan dia bantu. Dia memilih seorang anak laki-laki, namanya sebut saja Agus, asal Indonesia, yang  usianya di bawah dia.

Siapakah Agus? Agus seorang anak laki-laki yang terlahir normal dan sehat. Dia anak yang ceria. Dia juga rajin di sekolah dan di gereja. Tapi suatu hari sepulang sekolah, dia tertabrak motor. Karena mereka orang kampung yang pengetahuan akan kesehatannya terbatas, kaki yang terluka hanya dibalut dengan kain. Akhirnya setelah beberapa minggu, balutan dibuka dan ternyata kakinya sudah membusuk. Yah, habis gimana, sudah pasti tidak steril dan tidak cukup obat-obatannya. Karena sudah busuk, terpaksa kakinya diamputasi. Anak ini menjadi difabel, dengan hilangnya satu kakinya.

Anak Korea berkata begini waktu mau memilih anak asuhnya:

“Saya tidak mau memilih anak yang sehat. Saya mau memilih anak yang sakit, karena saya tahu bagaimana rasanya sakit.”

Singkat cerita pilihannya jatuh pada Agus. Setelah saling berkenalan lewat surat dan terus menjalin pertemanan, anak Korea itu berkata, dia ingin memberikan kaki palsunya yang lama untuk Agus. Dia sendiri yang datang ke Indonesia, membawa kaki palsunya yang lama, menemui Agus. Selama di Indonesia, mereka menghabiskan waktu bersama-sama, ke pantai, ke kolam renang, makan-makan. Entah berapa lama dia berlibur di tempat Agus. Mereka juga pergi ke rumah sakit, untuk konsultasi dengan tenaga medis tentang pemasangan kaki palsu Agus. Tapi saat itu kaki palsu belum bisa dipasang. Agus ketakutan karena kakinya yang buntung harus dioperasi lagi untuk menyambungkan kaki palsu. Anak Korea menghibur Agus dan berkata, walau awalnya sakit, memakai kaki palsu itu, nantinya akan bisa adaptasi. Waktu tiba saat pulang ke Korea, mereka berdua sedih sekali. Ini kata anak Korea itu waktu akan berpisah:

“Saya mau bekerja keras untuk dia. Saya akan bekerja supaya dia bisa tetap sekolah.”

Wow ~~

Anak sekolah kerja apa ya? Aku sih bayangin dia menabung dari uang jajannya. Atau mungkin kalau dia memenangkan lomba dan dapat uang sebagai hadiah, dia menabungnya. Aku yakin, walau mungkin dia anak keluarga berada, bukan orangtuanya yang membiayai biaya sponsorship. Aku yakin, orangtuanya memotivasi dia untuk tetap sekolah dan menabung untuk membantu Agus.

Setelah bertemu dengan sponsornya, Agus jadi bersemangat untuk menjadi atlit renang. Begitu kaki palsunya dipasang, dia mulai aktif lagi dalam olahraga. Dia melihat bahwa ternyata itu bisa dilakukan oleh anak difabel seperti sponsornya, jadi dia pun termotivasi untuk berprestasi.

Aku persingkat ya ceritanya. Anak Korea datang dua kali ke Indonesia. Kali pertama dia datang, usianya baru belasan tahun sepertinya. Agus juga masih SD. Lima belas tahun setelah kedatangannya yang pertama, pemuda Korea ini sudah kuliah. Sudah bukan anak-anak lagi yaa.. 😀 Dia datang lagi ke Indonesia, menemui Agus. Sepertinya, Agus sudah SMU sekarang. Agus sudah bisa memakai kaki palsu yang diberikan si pemuda Korea. Begitu bertemu, Agus lari dan memeluk pemuda Korea ini, kakak asuhnya, yang telah mengasihi dia seperti adik sendiri. Luar biasa.


Begitu juga dengan Yesus.

Yesus menjadi manusia, supaya DIA bisa merasakan seperti derita kita, manusia. Seperti apa rasanya kelaparan, kehausan, kesakitan, tak punya tempat tinggal, difitnah, diolok-olok, ditertawakan, diusir, dilempari batu, dan lain-lain.

Imajinasiku seperti ini. Dulu sekali di Surga sana Allah berkata pada Yesus: “Apa rencanaMu untuk menyelamatkan manusia? Sejentik jari bisa AKU lakukan untuk mengubah keadaan ini”

Tapi YESUS, dalam imajinasiku, berkata: “AKU ingin merasakan derita mereka. AKU ingin tahu apa rasanya sakit. Apa rasanya tertolak. Apa rasanya difitnah. AKU akan bekerja keras, supaya mereka bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga.”

Apa sulitnya bagi ALLAH PENCIPTA untuk melenyapkan bumi dan segala isinya dan memulai yang baru? Ngga sulit sama sekali. Tapi karena kasih Yesus, kita punya pilihan. Karena kasih Yesus, kita punya kesempatan. Karena DIA datang sebagai manusia, kita bisa ceritakan apa saja pada DIA karena DIA pernah merasakannya juga.

Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. (Yohanes 12:46)

Natal kemarin memang membuka mataku dalam banyak hal.

Bahwa yang kita cari itu ngga melulu duit. Punya banyak duit ngga menjamin hidupmu terhindar dari malapetaka.

Bahwa bahagia itu bisa dicapai saat kamu menolong orang lain. Saat orang yang kamu tolong bahagia, kamu juga ikut bahagia dengannya.

Bahwa sebenarnya, setiap orang BISA membantu orang lain. Dalam hal kecil sekalipun.

Ga usah nunggu punya banyak duit baru mau menolong orang. Lihat si anak Korea. “Saya mau bekerja keras supaya dia bisa sekolah”. Sponsorship itu lumayan loh harganya. Tiap bulan dia harus kirim kira-kira US$ 48 untuk membiayai sekolah dan kegiatan anak asuhnya. Ga gampang menabung 550rb tiap bulan, kan. Apalagi anak sekolah.

Natal, adalah saat kita merayakan kehadiran bayi Yesus, yang dengan rela jadi manusia supaya bisa merasakan kemiskinan, kesakitan, kelaparan dan kehausan, merasakan tidak punya rumah, dicacimaki, diusir dari kampungNya sendiri, dipaku dengan kejam di atas kayu yang kasar.

Kenapa Dia mau? Padahal Dia ALLAH. Kenapa Dia peduli? Padahal kita cuma debu.

Karena, Dia adalah Kasih. Ini adalah lirik lagu yang aku suka dari dulu:

Karena KasihNya

M’ngapa Yesus turun dari Surga
Masuk dunia g’lap penuh cela
M’ngapa Yesus bergumul di taman
Minum cawan pahit dengan rela

M’ngapa Yesus menderita disalib
Dan mahkota duripun dipakaiNya?
M’ngapa Yesus mati bagi saya?
Kasih-Nya, ya, kar’na kasih-Nya

Mengapa Yesus mau pegang tanganku
Bila ‘ku di jalan tersesat?
Mengapa Yesus b’riku kekuatan
Bila jiwaku mulai penat?

Mengapa Yesus mau menanggung dosaku
B’riku damai serta sukacita-Nya?
M’ngapa Dia mau melindungiku?
Kasih-Nya, ya, kar’na kasih-Nya

God gave us the gift of life; it is up to us to give ourselves the gift of living well.

Voltaire

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s