Remembering My Late Father In Easter Time

263917_2274012656244_6691406_n
Foto diambil  tanggal 26 Desember 2009. Noel, 4, dan Nathan, 9.

Aku sering inget Bapak waktu Paskah tiba.

Nggak, dia meninggal bukan di hari Paskah, tapi di masa Natal. Dia meninggal tanggal 23 Desember 2009. Tapi ada alasannya aku inget Bapak di masa Paskah.

Dulu aku ini bergereja di HKBP, sampai aku nikah baru pindah ke GKI. Waktu aku masih kecil, suatu Minggu Paskah kami pergi ke pemakaman orang Kristen di Pontianak. Aku waktu itu berjemaat di HKBP Kota Baru. Banyak jemaat yang juga ikut kebaktian subuh itu. Dengan penerangan seadanya, Pendeta kami memimpin ibadah Paskah di tengah-tengah lingkaran jemaatnya yang tersebar di makam keluarganya masing-masing. Kami semua khidmat ngikutin kebaktian itu. Aku, yang belum terlalu ngerti, ikut duduk di makam anak kembar seorang kakakku. Lalu waktu kebaktian selesai dan kami semua membersihkan makam keluarga masing-masing, aku tanya ke Mama, kenapa kita berkebaktian di kuburan. Mama bilang, itu karena Paskah adalah hari kebangkitan Yesus. Dan nanti kalau Yesus datang lagi, orang mati akan duluan bangkit. Jadi kita bikin kebaktian di sana untuk mengingat bahwa keluarga kita itu akan dibangkitkan lagi.

Waktu Bapak meninggal, aku baru satu setengah tahun tinggal di Bandung sama Jeffry dan anak-anak. Sebelum pindah ke Bandung, kami tinggal di Medan selama satu setengah tahun juga. Dan sebelum pindah ke Medan, kami tinggal di Jakarta. Jadi Nathan, si sulung, pindah sekolah selama 3 kali semasa SD: sampai kelas 1 dia sekolah di Jakarta. Kelas 1 semester 2 sampai kelas 2 dia di Medan. Lalu kelas 3 SD sampai sekarang kelas 11 (SMU), kami tinggal di Bandung.

Selama di Medan, kami tinggal dekat rumah Bapak. Cukup jalan kaki aja, kami sampai di rumahnya. Jadi kami sering main ke sana. Bapak waktu itu udah stroke, ngga bisa jalan cepat, ngga bisa nyetir mobil, ngga bisa bergerak cepat. Tiap siang dia duduk di teras, ngisi TTS, lalu sore-sore dia beli roti. Dulu Noel  suka menggambar di dekatnya, di teras.

Sebelum aku tutup tulisan ini, aku mau cerita waktu terakhir kali aku ngomong sama Bapak. Bapak sedang duduk di teras sementara kami sedang nunggu taksi datang untuk anter kami ke Bandara.  Jeffry udah duluan pindah, jadi tinggal aku dan anak-anak sekarang yang berangkat, ditemenin Mama yang ikut ke Bandara. Bapak bicara dari teras, ke anak-anak yang lagi berdiri di pagar rumahnya:

Nathan, Noel.. mau pindah yaa… Nggak ketemu Opung lagi deh… Nanti kalau kalian datang lagi ke Medan, Opung udah mati deh …

Denger itu, aku marah dan tegur Bapak. Aku kurang suka kalau Bapak singgung-singgung soal ‘mati’. Dari pagar aku sahutin Bapak:

Bapak kog ngomongnya gitu sih, jangan gitu doong … Harusnya Bapak beriman, masih bisa ketemu Nathan sama Noel dalam keadaan sehat! Harusnya Bapak bilang, datang lagi ya biar kita bisa main. Atau Bapak yang datang ke Bandung. Jangan malah ngomong kayak tadi, nanti terjadi sesuai iman Bapak itu gimana?

Bapak cuma diam aja dan senyum-senyum. Memang Bapak udah slow respon waktu itu, Lebih sering nanggepin orang dengan senyum. Dan sedihnya, omongan Bapak itu memang benar terjadi. Kami ngga bisa datang lagi ke Medan untuk Natal ataupun liburan sekolah karena terbang ke sana itu mahal, apalagi bawa 4 orang pulang pergi. Dan Bapak juga semakin ngga sehat, ngga sanggup terbang pake pesawat, ngga sanggup jalan-jalan jauh. Memang betul seperti omongannya, sekalinya kami balik ke Medan adalah karena dia meninggal.

Tiap Paskah aku mendadak cengeng karena teringat tradisi HKBP tadi. Aku ngga bisa bersihin makamnya di Minggu Paskah. Aku ngga bisa ziarah ke makamnya. Tapi aku pasti inget Bapak di hari Paskah. Tiap tahun sejak dia pergi. Tiap Natal juga aku ingat Bapak, karena dia meninggal di masa Natal.

Ada lagu kanak-kanak Sekolah Minggu yang sampe sekarang aku suka, karena ada janji bahwa Bapak (dan aku, dan kita semua yang percaya) akan bangkit lagi dan akan hidup bersama Yesus di surga.

Bapak, semoga kita ketemu lagi di rumah Yesus.

Miss you all the time – especially this time of year…

SEBAB DIA HIDUP

Anak Allah, Yesus namaNya
Menyembuhkan, menyucikan
Bahkan mati tebus dosaku
Kubur kosong membuktikan Dia hidup

S’bab Dia hidup, ada hari esok
S’bab Dia hidup, ‘ku tak gentar
Kar’na ku tahu, Dia pegang hari esok
Hidup jadi berarti s’bab Dia hidup

Ini lirik lengkapnya dalam bahasa Inggris:

BECAUSE HE LIVES 

God sent His Son, they called Him Jesus
He came to love, heal and forgive
He lived and died to buy my pardon
an empty grave is there to prove
My Savior lives

How sweet to hold our newborn baby
and feel the pride and joy He gives
But greater still that calm assurance
this Child can face uncertain days
because He lives

chorus:
Because He lives, I can face tomorrow
Because He lives, all fear is gone
Because I know, (I know) He holds the future
and life is worth the living
just because He lives

And then one day I’ll cross that river
I’ll fight life’s final war with pain
and then as death gives way to victory
I’ll see the light of glory
and I’ll know He reigns

back to Chorus.

Photo: di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, dalam perjalanan menuju Medan, tanggal 25 Desember 2009. Natal paling pilu dalam hidup saya…

Advertisements

2 thoughts on “Remembering My Late Father In Easter Time

  1. how touching 😢
    trillion thanks for sharing ur feeling & experience🙏🏼
    by reading ur story, I learn to be more grateful for what I have now, especially I still have my both parents. 🎎
    once again … thank u .. I feel blessed..😇

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s