The Big Secret of Learning English

Sekarang guw tau ken (1)

Saya ini bukanlah guru bahasa Inggris. Tulisan ini cuma sharing kembali dari langganan email yang saya ikuti. Jadi, saya nggak ngajarin ya. Hanya berbagi tips. Semuanya tergantung dari teman-teman sendiri, apakah mau ikut dengan cara ini atau engga.

Supaya bisa bahasa Inggris, kita harus perlakukan Bahasa Inggris sebagai teman. Jangan dimusuhi. Apa maksudnya?

Coba cari cara yang enak untuk belajar. Tiap orang punya cara belajar yang berbeda.

  • Nonton film-film berbahasa Inggris dan jangan perhatikan teksnya. Abaikan saja. Coba mengerti kalimat-kalimat itu sendiri tanpa bantuan teks.
  • Dengar lagu berbahasa Inggris.
  • Gabungkan bahasa Inggris dengan hobby kamu. Misal, kamu suka baca novel. Cari novel berbahasa Inggris. Atau kamu suka masak? Cari resep berbahasa Inggris dan coba buat, kalau memungkinkan. Fotografi? Ikut klub fotografi berbahasa Inggris supaya kamu belajar istilah-istilah baru. Suka nyanyi? Dengar lagu berbahasa Inggris dan coba mengerti artinya. Jangan hanya bisa nyanyi ya, harus tahu apa isi lagunya.

Coba pakai bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari. Tapi, jangan sepanjang hari! Ambil waktu 10 – 30 menit untuk melakukan minimal satu di antara kegiatan di bawah ini:

  • Tulis email atau jurnal dalam bahasa inggris. Jangan takut salah. Tulis dulu saja,
  • Tulis daftar belanja, to do list, agenda, dan lain-lain  dalam bahasa inggris.
  • Cari buku novel berbahasa Inggris yang mudah, baca 10-15 menit sebelum tidur.
  • Dengarkan 1 lagu berbahasa Inggris
  • Baca headline dalam bahasa Inggris. Ada banyak online newspaper yang bisa kita baca setiap hari. Pilih 1 artikel saja untuk dibaca dan coba pahami.
  • Ubah setelan bahasa gadget kamu ke dalam Bahasa Inggris. Mulanya memang susah, tapi lama-lama pasti terbiasa.

 

Nah, silakan teman-teman pilih sendiri mana aja yang mau dilakukan mulai sekarang.

Tips berikutnya saya bagikan beberapa hari lagi ya. Stay tune!

Advertisements

My Youngest, Noel Christopher Joy P.S.

16113096_10212344954085413_55233456656952177_o

Ini cuma sharing tentang Noel, anakku si bungsu. Aku sering cerita tentang Noel dan kelucuannya lewat status FB. Status itu tercecer selama bertahun-tahun, sulit dilacak. Nanti kalau ada memory dari FB, aku mau satukan di blog ini.

Noel mulai sekolah waktu di Medan. Waktu itu dia baru usia 3,5 tahun. Dia sekolah di TK Kristen dekat rumah. Nama gurunya Ms. Kartini, guru muda yang cantik.  Ms. Kartini sangat sayang pada Noel karena Noel paling muda usianya di antara semua murid TK A. Iyess.. Noel ngga masuk Playgroup. Dia pingin di TK karena ada belajar nulis. Playgroup cuma main, dia ga suka, aku juga ga suka.

1910452_1071627317362_387220_n
Noel dengan seragam sekolahnya di Medan. Ini di teras rumah Opungnya, pulang sekolah.

Noel suka duduk di pangkuan Ms. Kartini kalau lagi doa gabungan. Saat orang-orang menutup mata dan berdoa, Noel membuat bentuk segitiga, lingkaran dan persegi dengan jari-jarinya. Dia ngga ikut berdoa. Ms. Kartini memegang tangannya supaya dia berdoa, ngga main-main aja. Noel pun melipat tangan, menutup mata rapat-rapat, tapi mulutnya berbisik: ‘Segitiga! Lingkaran! Persegi!’ sambil keningnya berkerut.

Ms. Kartini pun menyerah. Ngga mungkin dia bekap mulut Noel. Akhirnya dia senyum-senyum sendiri karena Noel tetap sibuk dengan pikirannya padahal anak lain lagi nyanyi dan berdoa.

Begitulah Noel. Pikirannya selalu sibuk. Bahkan sampai sekarang.

268200_2273819851424_2345757_n
Noel dengan seragam TKK Penabur Guntur,

Lalu kami pindah ke Bandung. Dia masuk TKK Guntur. Nama gurunya adalah Ms. Sri. Waktu pertama kali Ms. Sri bawa dia ke kelas, anak-anak TK A protes. “Misssss…. kog dia masih kecil udah masuk TK? Harusnya kan playgroup misssss…?” Begitu cerita Ms. Sri ke aku. Ms. Sri cuma tersenyum lalu jawab: “Nggak apa-apa dong, Noel pingin sama kakak-kakak di sini, boleh ya?” Kira-kira begitulah jawabnya. Noel memang baru usia 3,5 tahun waktu itu. Seharusnya usia 4 tahun baru bisa masuk TK A.

Jadilah Noel murid TK A. Dia suka diajar sama Native teachernya, Mr. Matthew. Dia berani menjawab, berani komunikasi dalam bahasa Inggris. Tapi, dia selalu ketiduran kalau ada trip ke luar sekolah, dan tidurnya selalu di pangkuan Ms. Sri. Benar-benar anak kecil.

Lalu tahun berikutnya, dia belum bisa lanjut ke TK B. Tulisan tangannya masih amburadul karena dia masih umur 4,5 tahun. Dia pun mengulang di TK A. Sekarang dia sama besar dengan teman-teman sekelasnya. Gurunya masih sama, supaya dia tenang, walau temannya berbeda, dia punya guru yang dia kenal baik. Setelah itu dia lanjut ke TK B, dan tahun depannya lulus dari Kindergarten.

273066_2239008821170_4789894_o
Di dalam balon ini dia menulis cita-citanya, ingin menjadi dokter. Lalu balon diterbangkan ke langit (waktu itu belum ada larangan menerbangkan balon ke langit). – Graduation from Kindergarten June 17, 2011

Lalu, dia duduk di bangku SD.

Dia mulai pulang lebih siang. Pulang sekolah dia langsung tidur. Capek, katanya. Baru beberapa minggu sekolah, aku dipanggil sama WK-1.

“Mami, Noel sering ngga konsentrasi di kelas. Tolong Mami jangan belikan penghapus yang bentuk lucu-lucu ya, soalnya sama dia dimainin di kelas, jadi ngga memperhatikan saya.”

Oke. Di rumah, aku tanya Noel, kenapa main-main penghapus di kelas. Jawabnya: “Habis gurunya ga asik. Pelajarannya semua membosankan. Noel ga suka kelas 1. Enakan di TK, Mummy…”

Oalah. Noel nggak suka sekolah. Meniru siapakah? (Diam-diam, aku ngacung di belakang).

308844_2689236036569_210646865_n
Hari pertama di kelas 1.
308826_2689236076570_952354093_n
Baris di depan kelas, hari pertama di kelas 1, Juli 2011

Seiring waktu aku makin lihat bakat dan minat Noel. Dia sukanya seni. Dia suka di Paduan Suara, dia pilih ekskur biola, melukis, lalu ikut ekskur robotik dan skaci di kelas 6. Semua yang berbau seni, musik dan design.

Noel makin menunjukkan minat di bidang IPA dan seni. Pelajaran-pelajaran hafalan itu sulit banget buat dia. Dia nggak suka lari-lari di lapangan. Dia kalem: duduk tenang di kelas waktu istirahat dan nikmati bekal makan siangnya. Awal-awal sekolah dia suka ke perpustakaan. Dia selalu baca buku pengetahuan, seperti WHY.

412348_10200400019389511_1274894097_o
Noel usia 8 tahun, tahun 2012.

Di kelas 6, dia mulai kesulitan. Dia nggak suka belajar yang terlalu cepat. Di kelas 6 ini memang konsentrasi para guru adalah Ujian Nasional. Berbulan-bulan mereka ulangan, Try Out, ulangan lagi, Try Out lagi. Capek, katanya. Pada waktu-waktu dia capek, dia ga bisa disuruh belajar. Dia menggambar. Dia bikin cerita di laptop. Kalau aku suruh belajar, dia ambil buku, lalu baca. Tapi belum 10 menit, udah ketiduran.

Terus terang aja aku masih kuatir sama nilai ujian nasional dan ijasah kelulusan Noel. Dia santai-santai aja. Dia senang bukan kepalang karena UN udah selesai. Semoga aja cukup bagus, semoga aja semua di atas KKM atau target yang dia buat.

Masih aku ingat waktu Noel sakit, baru-baru ini, sebelum UN, aku bawa dia ke Hermina. Sambil memandang anak-anak kecil yang sakit di sana, dia berbisik, padahal dia baru aja muntah-muntah, “Mum, kalau Noel udah gede, Noel ingin jadi dokter, supaya anak-anak kecil nggak mati karena sakit.”

Ini bermula dari film yang kami tonton sebelumnya, tentang anak yang mati karena tenggelam di bath tub. “Kasian kalo anak kecil mati. Seharusnya umurnya masih panjang.” katanya.

Aku melabel Noel sebagai anak yang lembut hati – walau kalau ke Nathan dia galak. Tapi dari responnya selama ini kalau kami nonton film atau lihat kejadian-kejadian sekitar, aku tahu dia sebenarnya anak yang sensitif. Dia gampang empathy. Perasa. Melankolis, mungkin. Yang pasti, dia ada kholeric-nya.

16472959_10212467953120312_6502142736929060057_n
Noel. 2016, waktu Nathan sakit kami belikan Pizza supaya dia  mau makan. Noel yang mengusulkan waktu aku tanya, “Abang sakit, ga mau makan, kita beliin apa ya Dek?” Noel ingat Abang suka pzzza.  Jadi, di sinilah kami. Pizza Hut Buah Batu.

Jadi, sekarang UN dan UASBN sudah selesai. Riuh rendah kelas- kelas ujian tadi pagi waktu bel terakhir berbunyi  menandakan betapa leganya anak-anak ini karena semua sudah selesai. Tekanan, Kelelahan. Ulangan. Tugas-tugas. Semua selesai – sampai nanti tahun ajaran baru dimulai – babak baru pendidikan juga dimulai.

SMP St. Angela menunggu.

16143267_10212311435447468_2055271374426304781_n
Noel waktu pergi ke acara Hear Camp kelas 6 – pertama kali dia menginap tanpa orangtua.

Toleransi Bersahabat

true friendship

Belakangan ini,  media sosial ramai dengan berita politik yang sudah memanas sejak Pilkada DKI Jakarta, berujung pada penahanan Gubernur DKI Jakarta yang sekarang menjadi non-aktif, Basuki Tjahaya Purnama,

Sontak, aksi membela keadilan dan perdamaian marak di negeri ini, bahkan sampai ke luar negeri. Saya – sudah jelas terlihat dari status-status saya – adalah pengagum sang Gubernur. Tapi kemudian, perhatian saya beralih kepada Wakil Gubernur yang sekarang menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI, Bapak Djarot.

Foto Bapak Djarot yang paling viral adalah ketika matanya berkaca-kaca saat menyanyikan lagi Tanah Airku di Balaikota, sehari setelah penahanan Ahok, dalam Paduan Suara Balaikota yang dipimpin oleh Addie MS. Kata yang paling banyak dipakai adalah “sahabat” Ya. Djarot adalah sahabat Ahok. Dia terluka saat sahabatnya terluka. Dia menangis, saat sahabatnya pun mungkin menangis di penjara. Tapi jangan lupa, dia tetap bekerja, sama seperti yang diinginkan sahabatnya dari dalam penjara. Dia bahkan bersedia menggantikan sahabatnya di penjara. Bersedia menjadi penjaminnya bila sahabatnya diijinkan menjadi tahanan kota. Luar biasa. Djarot bukan saudara kandung Ahok. Bukan. Dia beda suku. Beda agama. Beda silsilah keturunan. Dia “bukan siapa-siapa”nya Ahok.

Dia sahabat Ahok. Itu saja.

Tak semua orang punya sahabat. Tak semua orang punya orang yang bukan berhubungan keluarga dengannya, tapi dekatnya menyamai – kalau tidak melebihi – saudara kandung. Kenapa seorang sahabat bisa melebihi saudara kandung? Memang ada saudara kandung yang juga menjadi sahabat paling dekat, tapi kemungkinan jumlahnya masih lebih sedikit daripada sahabat tanpa hubungan saudara.

Persahabatan muncul karena dua atau lebih orang berkomitmen untuk saling mendukung, saling menguatkan, saling mengasihi – apapun kekurangan pihak lain -, saling menjaga, saling percaya, saling menghormati.

Sahabat bisa berbeda suku, agama, ras, jenis kelamin, negara, pandangan politik, minat, hobby. Saya punya beberapa sahabat yang tidak seminat dengan saya, tapi sangat mendukung dan menyemangati saya waktu saya baru mulai menulis. Mereka membaca tulisan saya, memberi pendapat, mendengarkan cerita saya tentang dunia kepenulisan. Mereka bukan penulis. Kemungkinan mereka tidak akan pernah tertarik untuk menulis, malah. Tapi, mereka bersedia menjadi pendengar terbaik saya. Merekalah sahabat saya.

Dalam bersahabat, juga ada norma-norma yang harus diperhatikan – persis seperti toleransi beragama.

  • Tidak memaksakan kehendak.
  • Menghormati pandangan dan keputusan yang lain..
  • Tidak menjelek-jelekkannya di belakang.
  • Bisa dipercaya.
  • Seiya sekata, senasib sepenanggungan.
  • Menghargai keunikan karakter masing-masing.

Dan ini semua berlaku dua arah. Kalau saya ingin dihargai, saya harus menghargai dia. Kalau saya ingin bisa mempercayai dia, saya sendiri harus bisa dipercaya. Kalau saya berharap dia maklum atas sifat jelek saya, saya pun harus maklum atas sifat jelek dia.

Sulit? Ya. Karena kita cenderung egois dan egosentris. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan.

Sahabat itu mahal harganya. Bukan semua teman bisa naik derajat menjadi sahabat. Teman masih ada yang menjatuhkan. Sahabat selalu mendukung. Teman masih ada yang ngomongin kita di belakang. Sahabat menahan mulutnya dan membela saat sahabatnya diserang atau dihina.

Bagaimana kalau sahabat kita memang melakukan kesalahan yang menjatuhkan dia? Apa yang harus kita lakukan sebagai sahabatnya? Bukan membenarkan, tapi meminta pengertian dari pihak penyerang. Setiap orang pasti pernah jatuh. Setiap orang punya kelemahan. Seorang sahabat bukan menyerang, tapi menegur sahabatnya dengan kasih. Mengingatkan apa yang salah. Mengembalikan kepercayaan diri. Menemani sampai akhir.

Itu sebabnya, pak Djarot bersedia menjaminkan dirinya dan mendaftarkan KTP-nya sebagai penjamin sahabatnya. Lepas dari Ahok itu salah atau tidak (sebab masing-masing kubu memiliki pandangannya sendiri, dan tulisan saya ini adalah untuk semua pihak), Djarot mengambil sikap yang sangat mulia. Dia menunjukkan dukungannya pada Ahok. Dia tidak meninggalkan Ahok. Dia sedih, dia ikut merasakan ketidakadilan. Dia merasakan kepedihan sahabatnya. Itu sebabnya, dia berkata dia berani “pasang badan” untuk Ahok. Luar biasa! Kamu sendiri, berani pasang badan untuk sahabatmu?

Menjadi sahabat itu bukan hal gampang. Butuh waktu, komitmen, pengorbanan dan pengertian dari KEDUA BELAH PIHAK. Bukan hanya sepihak. Bukan “enak di elu ga enak di gue”.

Bahkan Salomo sudah mendefinisikan arti seorang sahabat, ribuan tahun yang lalu:

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Amsal 17:17

tolerance

A Man Named AHOK

btp2

Sejak dia menjadi gubernur, banyak orang yang membicarakan Ahok. Dia menjadi trending topik Indonesia, bahkan dunia.

Dia adalah seorang keturunan China, suatu suku keturunan yang, entah kenapa, sampai sekarang belum bisa dianggap sebagai bangsa Indonesia. Padahal keturunan Arab bisa dianggap sebagai pribumi.

Lalu, dia seorang Kristen. Agama yang, entah kenapa juga, dianggap ancaman oleh beberapa golongan dari agama mayoritas di negeri ini. Padahal selain Kristen dan Katolik, ada agama lain, semisal Hindu dan Budha. Tapi kedua agama itu tidak pernah dianggap ancaman.

Bahkan untuk urutan pengamanan saat merayakan hari besar agama, hari raya gerejawi semisal Natal dan Paskah dan rangkaian acaranya, adalah hari-hari raya yang harus dikawal oleh polisi dan militer. Bukan pemandangan aneh lagi kalau tiap Natal dan Paskah, ada mobil dan personil keamanan, baik polisi dan PM yang menjaga gereja-gereja. Bagai negara terjajah saja.

Ahok mewakili kaum ‘minoritas’ di Indonesia: dia China, Kristen pula. Dia dibenci, sekaligus dipuji. Dia dicaci, sekaligus dipuji, oleh pembenci dan pendukungnya. Dia dianggap ancaman – terutama karena dia membuat anggaran Pemkot DKI susah dikorupsi. Semua gerak-geriknya diamati. Semua perkataannya dicermati, dicari-cari kesalahannya. Padahal dialah yang membuat Jakarta sekarang semakin rapi, bersih, dan layak disebut ibukota.

Kasus Ahok yang bermula dari kunjungannya ke Kepulauan Seribu, dan ucapannya di sana diedit oleh seseorang berinisial BY, dan mengantarnya ke pengadilan negeri. Dia dianggap menista agama.

Anehnya, tidak semua pemeluk agama tersebut setuju. Hanya beberapa golongan saja. Beberapa golongan itu lalu mulai disinyalir sebagai pemecah bangsa. Lalu mulailah marak tagar SaveNKRI. Orang mulai resah. Ada sekelompok golongan tertentu yang mau memecah belah Indonesia, terutama saudara-saudari Muslim. Mereka kini terbagi dua: ada yang mencela, ada yang memuja.

Yang mengerikan adalah saat Pilkada DKI. Ketika kita semua yakin, penduduk DKI adalah orang-orang cerdas yang tidak bisa dipengaruhi oleh isu agama,  ternyata, Ahok dan Djarot kalah. Dan kalau kita melihat video yang beredar di kalangan tertentu, ternyata mereka mengancam dan menakut-nakuti para calon pemilih  dengan doa yang menurut saya lebih berupa kutukan. Mungkin – sekali lagi mungkin – itu sebabnya para pemilih ini menjadi takut, karena mereka merasa terancam keselamatannya – terutama akhirat – berurusan dengan pilkada ini.

Tapi di situlah Ahok semakin bersinar. Dia tetap legowo. Dia mengucapkan selamat kepada pihak pemenang pilkada. Dia kembali bekerja menuntaskan pekerjaannya yang masih menjadi tanggungjawabnya. Tidak sekalipun terpikir oleh Ahok untuk ‘menyelamatkan’ kas DKI untuk kepentingannya sendiri, mengingat masa jabatannya hanya tinggal lima bulan lagi. Dia juga masih harus menanti keputusan pengadilan terhadap tuduhan kasus penistaan agama – yang diyakini banyak orang sebagai hal yang mengada-ada. Saksi-saksi yang diajukan tidak ada yang mendengar secara langsung perkataan Ahok di Kep. Seribu, dan hanya mendengar video editan BY, yang sebetulnya sudah mengaku bahwa ia ‘menghilangkan’ beberapa kata dari kata-kata asli seorang Ahok.

Balaikota penuh dengan ribuan papan bunga berisi ucapan terima kasih atas kinerja Ahok dan Djarot selama ini. Setelah bunga, muncul balon merah putih. Balai Kota seperti sedang menggelar acara pernikahan istimewa tokoh masyarakat yang luar biasa terkenal. Tapi mungkin saja itu benar. Ahok telah memikat hati banyak orang dengan kejujuran, ketegasan, keberanian, dan rasa sosial yang tinggi. Banyak orang ‘jatuh cinta’ padanya. Ahok telah memikat hati kita bagai seorang pengantin laki-laki terhadap pengantin perempuannya. Salah satu papan bunga berkata: “Dari cupuers yang tidak bisa move on.” Atau: “Dari kami yang harus putus, saat lagi sayang-sayangnya.”

Ahok kemudian divonis penjara selama 2 tahun – dan ini membuat Indonesia lebih terguncang lagi. Saat sidang berlangsung, ratusan – kalau tidak ribuan – orang membawa bunga merah dan putih ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara dan menyulapnya menjadi taman bunga.

Ribuan orang mengganti Profile Picture Facebook-nya dengan pita hitam dengan tulisan RIP Indonesia Justice. Status-status singkat dan tagar-tagar baru bermunculan. Semua menyatakan kesedihan dan kekecewaan terhadap sistem peradilan hukum di negeri ini. Termasuk tulisan saya.

Bagaimana dengan Ahok sendiri?

Saya melihat di televisi, dia tetap tenang, tersenyum saat turun dari mobil yang membawanya ke LP Cipinang, tempat dia akan ditahan selama 2 tahun ke depan. Dia seperti sudah tahu bahwa ini adalah salah satu kemungkinan yang akan terjadi.

Saya juga tertarik melihat reaksi istrinya, Ibu Veronika. Dia wanita yang kuat. Kalau suami saya yang ditahan. saya pasti akan menangis menjerit meminta keadilan. Tidak dengan Ibu Veronika. Dia tenang. Walau saya yakin hatinya terpukul, dia bisa menahan emosinya dan membawa dirinya dengan baik. Luar biasa. Betapa saya ingin menjadi sedikit saja seperti beliau. Ketenangannya. Keyakinannya. Imannya. Semua luar biasa bagi saya.

Saya sedih bahwa Indonesia telah turun derajat menjadi negeri yang mengalami kemunduran. Kasus Ahok ini diikuti oleh dunia. Putusan sidang Ahok langsung menjadi berita utama di berbagai media berbahasa Inggris: Ahok: A Christian Governor, Found Guilty of Blasphemy, was Sent to Jail for Two Years.

Memang masih banyak langkah yang mau diambil oleh tim Ahok. Dia mengajukan banding. Wakil Gubernur Djarot, yang telah diangkat menjadi PLT Gubernur, juga menyatakan akan mengupayakan agar Ahok menjadi tahanan kota. Para pendukung Ahok masih ramai berorasi di depan LP Cipinang – sampai tulisan ini saya buat.

Akhir kata, mari doakan keluarga Ahok: Ibu Veronika, Nicholas Sean, Nathania dan Daud. They really need our prayers.

Ahok. Tak kurang kata yang telah dikirim untuk menyatakan dukungan padanya. Tak kurang kata cinta dan pujian yang dinyatakan atas prestasi kerjanya dan kemuliaan karakternya. Saya berdoa, ya, berdoa, walaupun akhirnya harus seperti Ahok, anak-anak saya akan tetap tumbuh jadi pribadi yang punya integritas tinggi. Mungkin memang semua orang Kristen harus mati sebagai martir. Dan dunia yang semakin gampang sekaligus jahat ini, adalah ladang yang harus dikerjakan oleh ahli waris negeri, termasuk oleh anak-anak saya.  Saya berdoa, anak-anak saya tetap teguh dalam iman pada Yesus Kristus, tidak akan terombang-ambing, karena reward sesungguhnya bukanlah dari dunia, tapi dari Allah sendiri.

Saya yakin, bahwa Ahok tahu, dia akan mendengar suara Tuhan berkata ini padanya:

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Matius 21:25

Karangan-bunga-Ahok-di-depan-balaikota-Bagus-2-1
Papan BUnga ucapan Terima Kasih di Halaman Balai Kota, Mei 2017
59101d8dc0d65-balon-merah-putih-penuhi-halaman-balaikota-dki-jakarta_663_382
Ribuan balon menyerbu halaman Balai Kota Jakarta setelah fenomena papan bunga.

habakuk1