A Man Named AHOK

btp2

Sejak dia menjadi gubernur, banyak orang yang membicarakan Ahok. Dia menjadi trending topik Indonesia, bahkan dunia.

Dia adalah seorang keturunan China, suatu suku keturunan yang, entah kenapa, sampai sekarang belum bisa dianggap sebagai bangsa Indonesia. Padahal keturunan Arab bisa dianggap sebagai pribumi.

Lalu, dia seorang Kristen. Agama yang, entah kenapa juga, dianggap ancaman oleh beberapa golongan dari agama mayoritas di negeri ini. Padahal selain Kristen dan Katolik, ada agama lain, semisal Hindu dan Budha. Tapi kedua agama itu tidak pernah dianggap ancaman.

Bahkan untuk urutan pengamanan saat merayakan hari besar agama, hari raya gerejawi semisal Natal dan Paskah dan rangkaian acaranya, adalah hari-hari raya yang harus dikawal oleh polisi dan militer. Bukan pemandangan aneh lagi kalau tiap Natal dan Paskah, ada mobil dan personil keamanan, baik polisi dan PM yang menjaga gereja-gereja. Bagai negara terjajah saja.

Ahok mewakili kaum ‘minoritas’ di Indonesia: dia China, Kristen pula. Dia dibenci, sekaligus dipuji. Dia dicaci, sekaligus dipuji, oleh pembenci dan pendukungnya. Dia dianggap ancaman – terutama karena dia membuat anggaran Pemkot DKI susah dikorupsi. Semua gerak-geriknya diamati. Semua perkataannya dicermati, dicari-cari kesalahannya. Padahal dialah yang membuat Jakarta sekarang semakin rapi, bersih, dan layak disebut ibukota.

Kasus Ahok yang bermula dari kunjungannya ke Kepulauan Seribu, dan ucapannya di sana diedit oleh seseorang berinisial BY, dan mengantarnya ke pengadilan negeri. Dia dianggap menista agama.

Anehnya, tidak semua pemeluk agama tersebut setuju. Hanya beberapa golongan saja. Beberapa golongan itu lalu mulai disinyalir sebagai pemecah bangsa. Lalu mulailah marak tagar SaveNKRI. Orang mulai resah. Ada sekelompok golongan tertentu yang mau memecah belah Indonesia, terutama saudara-saudari Muslim. Mereka kini terbagi dua: ada yang mencela, ada yang memuja.

Yang mengerikan adalah saat Pilkada DKI. Ketika kita semua yakin, penduduk DKI adalah orang-orang cerdas yang tidak bisa dipengaruhi oleh isu agama,  ternyata, Ahok dan Djarot kalah. Dan kalau kita melihat video yang beredar di kalangan tertentu, ternyata mereka mengancam dan menakut-nakuti para calon pemilih  dengan doa yang menurut saya lebih berupa kutukan. Mungkin – sekali lagi mungkin – itu sebabnya para pemilih ini menjadi takut, karena mereka merasa terancam keselamatannya – terutama akhirat – berurusan dengan pilkada ini.

Tapi di situlah Ahok semakin bersinar. Dia tetap legowo. Dia mengucapkan selamat kepada pihak pemenang pilkada. Dia kembali bekerja menuntaskan pekerjaannya yang masih menjadi tanggungjawabnya. Tidak sekalipun terpikir oleh Ahok untuk ‘menyelamatkan’ kas DKI untuk kepentingannya sendiri, mengingat masa jabatannya hanya tinggal lima bulan lagi. Dia juga masih harus menanti keputusan pengadilan terhadap tuduhan kasus penistaan agama – yang diyakini banyak orang sebagai hal yang mengada-ada. Saksi-saksi yang diajukan tidak ada yang mendengar secara langsung perkataan Ahok di Kep. Seribu, dan hanya mendengar video editan BY, yang sebetulnya sudah mengaku bahwa ia ‘menghilangkan’ beberapa kata dari kata-kata asli seorang Ahok.

Balaikota penuh dengan ribuan papan bunga berisi ucapan terima kasih atas kinerja Ahok dan Djarot selama ini. Setelah bunga, muncul balon merah putih. Balai Kota seperti sedang menggelar acara pernikahan istimewa tokoh masyarakat yang luar biasa terkenal. Tapi mungkin saja itu benar. Ahok telah memikat hati banyak orang dengan kejujuran, ketegasan, keberanian, dan rasa sosial yang tinggi. Banyak orang ‘jatuh cinta’ padanya. Ahok telah memikat hati kita bagai seorang pengantin laki-laki terhadap pengantin perempuannya. Salah satu papan bunga berkata: “Dari cupuers yang tidak bisa move on.” Atau: “Dari kami yang harus putus, saat lagi sayang-sayangnya.”

Ahok kemudian divonis penjara selama 2 tahun – dan ini membuat Indonesia lebih terguncang lagi. Saat sidang berlangsung, ratusan – kalau tidak ribuan – orang membawa bunga merah dan putih ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara dan menyulapnya menjadi taman bunga.

Ribuan orang mengganti Profile Picture Facebook-nya dengan pita hitam dengan tulisan RIP Indonesia Justice. Status-status singkat dan tagar-tagar baru bermunculan. Semua menyatakan kesedihan dan kekecewaan terhadap sistem peradilan hukum di negeri ini. Termasuk tulisan saya.

Bagaimana dengan Ahok sendiri?

Saya melihat di televisi, dia tetap tenang, tersenyum saat turun dari mobil yang membawanya ke LP Cipinang, tempat dia akan ditahan selama 2 tahun ke depan. Dia seperti sudah tahu bahwa ini adalah salah satu kemungkinan yang akan terjadi.

Saya juga tertarik melihat reaksi istrinya, Ibu Veronika. Dia wanita yang kuat. Kalau suami saya yang ditahan. saya pasti akan menangis menjerit meminta keadilan. Tidak dengan Ibu Veronika. Dia tenang. Walau saya yakin hatinya terpukul, dia bisa menahan emosinya dan membawa dirinya dengan baik. Luar biasa. Betapa saya ingin menjadi sedikit saja seperti beliau. Ketenangannya. Keyakinannya. Imannya. Semua luar biasa bagi saya.

Saya sedih bahwa Indonesia telah turun derajat menjadi negeri yang mengalami kemunduran. Kasus Ahok ini diikuti oleh dunia. Putusan sidang Ahok langsung menjadi berita utama di berbagai media berbahasa Inggris: Ahok: A Christian Governor, Found Guilty of Blasphemy, was Sent to Jail for Two Years.

Memang masih banyak langkah yang mau diambil oleh tim Ahok. Dia mengajukan banding. Wakil Gubernur Djarot, yang telah diangkat menjadi PLT Gubernur, juga menyatakan akan mengupayakan agar Ahok menjadi tahanan kota. Para pendukung Ahok masih ramai berorasi di depan LP Cipinang – sampai tulisan ini saya buat.

Akhir kata, mari doakan keluarga Ahok: Ibu Veronika, Nicholas Sean, Nathania dan Daud. They really need our prayers.

Ahok. Tak kurang kata yang telah dikirim untuk menyatakan dukungan padanya. Tak kurang kata cinta dan pujian yang dinyatakan atas prestasi kerjanya dan kemuliaan karakternya. Saya berdoa, ya, berdoa, walaupun akhirnya harus seperti Ahok, anak-anak saya akan tetap tumbuh jadi pribadi yang punya integritas tinggi. Mungkin memang semua orang Kristen harus mati sebagai martir. Dan dunia yang semakin gampang sekaligus jahat ini, adalah ladang yang harus dikerjakan oleh ahli waris negeri, termasuk oleh anak-anak saya.  Saya berdoa, anak-anak saya tetap teguh dalam iman pada Yesus Kristus, tidak akan terombang-ambing, karena reward sesungguhnya bukanlah dari dunia, tapi dari Allah sendiri.

Saya yakin, bahwa Ahok tahu, dia akan mendengar suara Tuhan berkata ini padanya:

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Matius 21:25

Karangan-bunga-Ahok-di-depan-balaikota-Bagus-2-1
Papan BUnga ucapan Terima Kasih di Halaman Balai Kota, Mei 2017
59101d8dc0d65-balon-merah-putih-penuhi-halaman-balaikota-dki-jakarta_663_382
Ribuan balon menyerbu halaman Balai Kota Jakarta setelah fenomena papan bunga.

habakuk1

Advertisements

2 thoughts on “A Man Named AHOK

  1. Tulisan mbak ephin membuat saya menghabiskan 10 lembar tisu..
    Setuju banget dengan tulisannya apalagi di poin ibu Veronika. Hanya kekuatan Cinta yang bisa memberikan kekuatan tak terbatas😍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s