Toleransi Bersahabat

true friendship

Belakangan ini,  media sosial ramai dengan berita politik yang sudah memanas sejak Pilkada DKI Jakarta, berujung pada penahanan Gubernur DKI Jakarta yang sekarang menjadi non-aktif, Basuki Tjahaya Purnama,

Sontak, aksi membela keadilan dan perdamaian marak di negeri ini, bahkan sampai ke luar negeri. Saya – sudah jelas terlihat dari status-status saya – adalah pengagum sang Gubernur. Tapi kemudian, perhatian saya beralih kepada Wakil Gubernur yang sekarang menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI, Bapak Djarot.

Foto Bapak Djarot yang paling viral adalah ketika matanya berkaca-kaca saat menyanyikan lagi Tanah Airku di Balaikota, sehari setelah penahanan Ahok, dalam Paduan Suara Balaikota yang dipimpin oleh Addie MS. Kata yang paling banyak dipakai adalah “sahabat” Ya. Djarot adalah sahabat Ahok. Dia terluka saat sahabatnya terluka. Dia menangis, saat sahabatnya pun mungkin menangis di penjara. Tapi jangan lupa, dia tetap bekerja, sama seperti yang diinginkan sahabatnya dari dalam penjara. Dia bahkan bersedia menggantikan sahabatnya di penjara. Bersedia menjadi penjaminnya bila sahabatnya diijinkan menjadi tahanan kota. Luar biasa. Djarot bukan saudara kandung Ahok. Bukan. Dia beda suku. Beda agama. Beda silsilah keturunan. Dia “bukan siapa-siapa”nya Ahok.

Dia sahabat Ahok. Itu saja.

Tak semua orang punya sahabat. Tak semua orang punya orang yang bukan berhubungan keluarga dengannya, tapi dekatnya menyamai – kalau tidak melebihi – saudara kandung. Kenapa seorang sahabat bisa melebihi saudara kandung? Memang ada saudara kandung yang juga menjadi sahabat paling dekat, tapi kemungkinan jumlahnya masih lebih sedikit daripada sahabat tanpa hubungan saudara.

Persahabatan muncul karena dua atau lebih orang berkomitmen untuk saling mendukung, saling menguatkan, saling mengasihi – apapun kekurangan pihak lain -, saling menjaga, saling percaya, saling menghormati.

Sahabat bisa berbeda suku, agama, ras, jenis kelamin, negara, pandangan politik, minat, hobby. Saya punya beberapa sahabat yang tidak seminat dengan saya, tapi sangat mendukung dan menyemangati saya waktu saya baru mulai menulis. Mereka membaca tulisan saya, memberi pendapat, mendengarkan cerita saya tentang dunia kepenulisan. Mereka bukan penulis. Kemungkinan mereka tidak akan pernah tertarik untuk menulis, malah. Tapi, mereka bersedia menjadi pendengar terbaik saya. Merekalah sahabat saya.

Dalam bersahabat, juga ada norma-norma yang harus diperhatikan – persis seperti toleransi beragama.

  • Tidak memaksakan kehendak.
  • Menghormati pandangan dan keputusan yang lain..
  • Tidak menjelek-jelekkannya di belakang.
  • Bisa dipercaya.
  • Seiya sekata, senasib sepenanggungan.
  • Menghargai keunikan karakter masing-masing.

Dan ini semua berlaku dua arah. Kalau saya ingin dihargai, saya harus menghargai dia. Kalau saya ingin bisa mempercayai dia, saya sendiri harus bisa dipercaya. Kalau saya berharap dia maklum atas sifat jelek saya, saya pun harus maklum atas sifat jelek dia.

Sulit? Ya. Karena kita cenderung egois dan egosentris. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan.

Sahabat itu mahal harganya. Bukan semua teman bisa naik derajat menjadi sahabat. Teman masih ada yang menjatuhkan. Sahabat selalu mendukung. Teman masih ada yang ngomongin kita di belakang. Sahabat menahan mulutnya dan membela saat sahabatnya diserang atau dihina.

Bagaimana kalau sahabat kita memang melakukan kesalahan yang menjatuhkan dia? Apa yang harus kita lakukan sebagai sahabatnya? Bukan membenarkan, tapi meminta pengertian dari pihak penyerang. Setiap orang pasti pernah jatuh. Setiap orang punya kelemahan. Seorang sahabat bukan menyerang, tapi menegur sahabatnya dengan kasih. Mengingatkan apa yang salah. Mengembalikan kepercayaan diri. Menemani sampai akhir.

Itu sebabnya, pak Djarot bersedia menjaminkan dirinya dan mendaftarkan KTP-nya sebagai penjamin sahabatnya. Lepas dari Ahok itu salah atau tidak (sebab masing-masing kubu memiliki pandangannya sendiri, dan tulisan saya ini adalah untuk semua pihak), Djarot mengambil sikap yang sangat mulia. Dia menunjukkan dukungannya pada Ahok. Dia tidak meninggalkan Ahok. Dia sedih, dia ikut merasakan ketidakadilan. Dia merasakan kepedihan sahabatnya. Itu sebabnya, dia berkata dia berani “pasang badan” untuk Ahok. Luar biasa! Kamu sendiri, berani pasang badan untuk sahabatmu?

Menjadi sahabat itu bukan hal gampang. Butuh waktu, komitmen, pengorbanan dan pengertian dari KEDUA BELAH PIHAK. Bukan hanya sepihak. Bukan “enak di elu ga enak di gue”.

Bahkan Salomo sudah mendefinisikan arti seorang sahabat, ribuan tahun yang lalu:

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Amsal 17:17

tolerance

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s