Where Are Christian Writers?

 

51185-jim-rohn-quote-you-cannot-make-progress-without-making-decisions

Tulisan ini hanya untuk mengeluarkan kerinduan saya sebagai penulis pemula.

Teman-teman seiman yang tersayang.

Saya baru mulai menulis tahun 2016. Awalnya, saya cuma suka nulisin cerita tentang Adek, panggilan untuk anak bungsu saya. Saya punya banyak kekaguman terhadap dia, jadi saya mulai tulis ceritanya. Ternyata, gaya tulisan saya cukup disukai teman-teman dunia maya. Saya semakin percaya diri untuk menulis. Saya bukan cari ‘like’ – walau ‘like’ itu salah satu penanda bahwa tulisan status kita disukai orang.

Berbekal itu, saya mulai ngintip grup menulis. Lalu belajar di sana. Awalnya belajar nulis artikel dulu. Lalu mulai berani ikut lomba. Lebih banyak ditolaknya, daripada yang lolos seleksi, :D. Tapi saya nggak menyerah. Saya tetap rajin ikut lomba, rajin belajar di grup-grup nulis. Ada yang gratis (biasanya via Telegram) ada juga yang berbayar (biasanya via Facebook Group).

Lalu saya iseng-iseng mendaftar jadi Penanggung Jawab Event sebuah lomba bersama penerbit tertentu. Puji Tuhan – saya lulus. Saya diterima menjadi PJ Event tersebut. Mulailah hari-hari saya sibuk dengan membuat narasi untuk poster, membuat page (karena berdasarkan pengalaman, lomba bisa diikuti oleh ribuan peserta, dan kalau ribuan orang itu meminta pertemanan dengan saya (sebab itu adalah salah satu syarat yang saya buat – berteman dengan saya di FB) – maka saya bisa kehabisan seat buat teman-teman baru. Jumlah teman dunia maya di FB hanya boleh 5,000 orang,

Makanya, saya bikin FanPage. Bukan berarti saya sok ngartis – enggak. Itu untuk menyiasati kalau akun pribadi saya udah nggak bisa menerima pertemanan baru. Mereka bisa follow saya di FP.

Dari ratusan orang yang baru berteman dengan saya ini, sedikit sekali yang beragama Kristen. 98 persen adalah teman-teman Muslim. Luar biasa! Teman-teman terbaik saya di grup menulis pun mayoritas Muslim. Dan kami baik-baik saja. Kami cuma bahas dunia menulis, bukan agama, bukan politik. Agama dan politik itu rentan memecah belah persaudaraan – udah terbukti kan.

Saya, di tengah-tengah aktivitas saya memeriksa daftar teman yang baru, merasa bingung. Kemana semua tenan-teman Kristen? Nggak adakah yang tertarik belajar menulis? Jangan bilang bukan bakat. Yang berbakat, kalah sama yang berusaha keras. Memang yang berbakat lebih cepat belajar. Tapi yang berusaha keras pun akan rewarded.

Padahal, Injil itu untuk disebarluaskan, baik dalam bentuk audio maupun visual. Kita masih kekurangan penulis cerita Kristen. Kita masih kurang bacaan anak dengan nilai-nilai kristiani. Coba aja main ke toko buku besar semacam Gramedia. Kebanyakan buku narasi Kristen di sana adalah buku impor. Cetakannya bagus tapi harganya mahal. Kenapa kita nggak belajar menulis supaya bisa menerbitkan bacaan anak dengan nilai-nilai kristiani untuk kalangan sendiri?

Kitab Suci kita juga ditulis, Tuhan membimbing Musa menuliskan lima kitab Taurat. Padahal coba kita pikir, Musa belajar menulis dari mana? Tapi sampai sekarang, tulisan Musa ini masih ada dalam Alkitab. Juga seluruh Alkitab kita – apa semuanya ditulis oleh penulis? Nggak. Ada yang profesinya penyanyi. Ada tabib. Ada gembala ternak. Yang mana yang murni penulis? Mereka bisa menulis karena mereka MAU dan mereka DIPIMPIN dan DIBIMBING Allah Roh Kudus.

Ayo, teman-teman seiman. Nggak usah malu belajar menulis. Awalnya mungkin aneh. Tapi kalau udah terbiasa, pasti bisa menulis dengan baik, menulis dengan tujuan, menulis yang dipahami orang, nggak menimbulkan ambigu. Tau ambigu nggak? 😀

Jangan takut memulai menulis. Semua orang pasti pernah salah. Makanya ada penghapus. Siapa sih penghapus bagi para penulis? Teman-teman dalam grup menulis. Merekalah yang menolong kita makin baik tiap hari. Jangan takut tulisannya dikritik. Dengan kritik, cara menulis kita berkembang. Pujian itu bikin jatuh. Kritiklah yang membuat kita makin berkembang. Amin?

profesional writer