Para Pemimpin Malaikat dalam Alkitab

angels-of-god-book-3102317

Sedari dulu, malaikat selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. Mungkin karena keberadaan mereka yang supranatural, maka kita jadi penasaran. Banyak orang ingin tahu lebih banyak tentang malaikat, bahkan juga salah paham tentang mereka.

Malaikat berasal dari kata Yunani, Angelos, yang artinya “utusan Allah”, yang merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani, mal’akh. Dalam Alkitab, kata ‘malaikat’ selalu disandingkan dengan ‘Allah” atau ‘Tuhan”. Malaikat diciptakan sebelum manusia ada. Mereka adalah penghuni surga yang pertama-tama. Bersama Allah, mereka mendiami surga, dan kemudian Allah memutuskan untuk menciptakan jagad raya. Seperti halnya pasukan tentara, malaikat juga memiliki pemimpin. Kini kita akan berkenalan dengan pemimpin para malaikat yang tercatat dalam Alkitab.

Gabriel

Dia adalah salah satu malaikat paling penting dalam Alkitab. Tahtanya ada di tangan kiri Tuhan. Tugas utamanya adalah membawakan pesan/wahyu kepada manusia. Ia memberitahu Elizabeth, sepupu Maria, bahwa ia akan mengandung seorang nabi yang akan dinamai Yohanes. Ia juga memberitahu Maria, ibu Yesus, bahwa ia akan melahirkan seorang anak yang akan disebut “Anak Allah Yang Mahatinggi” (Lukas 1:32). Gabriel disebut “malaikat Tuhan” dalam Lukas 1:11. Kemungkinan, dia juga yang datang ke padang rumput dimana para gembala sedang menjagai ternak.

Dalam Perjanjian Lama, Gabriel muncul dalam kitab Daniel dan memberikan penjelasan akan penglihatannya. Daniel 8:15-16 mencatat, “Sedang aku, Daniel, melihat penglihatan itu dan berusaha memahaminya, maka tampaklah seorang berdiri di depanku, yang rupanya seperti seorang laki-laki; dan aku mendengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: “Gabriel, buatlah orang ini memahami penglihatan itu!”. Dalam pasal selanjutnya, Gabriel kembali disebut ketika Daniel berdoa dan mengaku dosa kepada Allah, Daniel 9:21-22 “sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel, dia yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari. Lalu ia mengajari aku dan berbicara dengan aku: “Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti.”

Dalam agama Yahudi, Gabriel ditafsirkan sebagai “manusia berpakaian lenan”  (Yehezkiel 10: 2, 6 dan 7­, Daniel 10:5 , Daniel 12: 6-7). Menurut tradisi Ibrani, Gabriel dipercaya akan ikut meniup sangkakala tanda akhir jaman.

Mikhael

Nama malaikat Mikhael pertama kali disebut dalam Daniel 10:12, “Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu…” Dalam kitab berbahasa Inggris, istilah ini lebih jelas:

New International Version: “At that time Michael, the great prince who protects your people, will arise.”

New Living Translation: At that time Michael, the archangel who stands guard over your nation, will arise.”

Mikhael, yang namanya berarti “Who is like God” – “yang seperti Allah” – secara tradisional namanya merupakan pertanyaan retoris, “siapakah yang seperti Allah”. Dalam Yudas 1:9 diceritakan, “Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, …”  Kemudian dalam Wahyu 12:7, “Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya.” Dari ayat-ayat ini kita bisa mengetahui bahwa malaikat Mikhael adalah Penghulu Malaikat dan memiliki pasukan malaikat di bawah komandonya.

Mikhael adalah Panglima Balatentara Tuhan (baca Yosua 5:13-15). Nabi Daniel lebih dari satu kali menyebut dia sebagai “Pemimpin”, malaikat pelindung bangsa Israel (Daniel 10:13, 21, Daniel 12:1). Yudas menyebut dia sebagai Penghulu Malaikat (Yudas 1:9). Diduga, Mikhael adalah Malaikat yang akan berseru memberi tanda ketika tiba saatnya orang-orang benar akan diangkat ke surga, baik yang hidup maupun yang sudah mati.  (1 Tesalonika 4:16).

Raphael

Nama penghulu malaikat ini hanya ada dalam kitab Deuteronika (Alkitab Katolik). Nama ini muncul dalam kitab Tobit 12:15. “Aku ini Rafael, satu dari ketujuh malaikat yang melayani di hadapan Tuhan yang mulia.” Dari ayat ini kita mengetahui bahwa ada 7 malaikat yang memiliki kedudukan yang tinggi di Surga. Kita tidak tahu lebih banyak tentang Raphael ini, ataupun tentang malaikat lainnya, selain Gabriel dan Mikhael (dan Lusifer).

Selain ke tiga malaikat di atas, Alkitab juga mencatat tentang seorang malaikat lain yang menjadi cikal bakal peperangan antara surga dan bumi. Dia adalah:

Lucifer

Jangan lupa bahwa Lucifer (Iblis) tadinya adalah malaikat juga. Nama ini secara hurufiah tidak muncul di dalam Alkitab Bahasa Indonesia. Dia hanya muncul dalam Alkitab edisi King James Version, dalam Yesaya 14:12, “How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning!  How art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!” (“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!” Arti nama Lucifer adalah Pembawa Terang.

Siapakah malaikat Lusifer?

satans-pridePembaca Alkitab percaya bahwa Lucifer tadinya adalah Pemimpin Malaikat yang bertugas untuk memuji Tuhan. Kemanapun dia berjalan, selalu diiringi dengan alat musik seperti rebana (alat musik pukul) dan bangsi (alat musik tiup sejenis recorder atau suling) sehingga menghasilkan bunyi-bunyian yang indah. Tuhan menciptakan Lucifer sebagai malaikat yang pandai bernyanyi dan bermusik. Itu sebabnya, Allah mempercayakan dia menjadi pemimpin pujian dan penyembahan di Surga.

Dalam prakteknya, Lucifer tidak perlu berteriak-teriak memanggil penghuni Surga lain untuk berkumpul dan menyembah Tuhan, tapi dengan kepakan sayapnya, terdengarlah puji-pujian yang indah di Surga, dan seisi Surga sujud menyembah Tuhan. Lucifer adalah malaikat dari golongan kerub (malaikat yang bertugas menjaga kekudusan). Dia malaikat yang cantik (Yeh. 28:17), sempurna, berhikmat dan maha indah (28:12). Ia ditaruh di taman Eden.  Namun, Lucifer ingin menjadi sombong, ingin mendirikan takhtanya mengatasi bintang-bintang, ingin mengatasi langit, bahkan ingin menyamai Yang Mahatinggi. (Yesaya 14:12-15). Rasul Paulus menyebutnya sebagai setan, ular tua, naga, dan singa yang mengaum-aum dan yang menyamar sebagai Malaikat terang (2 Kor 11:14). Lucifer dijadikan contoh oleh Paulus kepada anak rohaninya, Timotius, berkenaan dengan orang yang baru bertobat (1 Tim 3:6).

Nubuatan tentang Lucifer dan para malaikat pengikutnya ada dalam kitab Wahyu. Sampai pada akhir jaman, Lucifer – atau Setan – akan terus mendakwa dan menggoda anak-anak Tuhan agar berpaling dari Dia. Namun pada akhirnya ia dan semua pengikutnya (malaikat yang memberontak dan manusia yang tidak percaya akan Allah) akan dihukum di neraka untuk selama-lamanya.

Sebenarnya ada satu malaikat lagi yang tercatat dalam Alkitab, yaitu

Abaddon/Apolion

Nama malaikat ini tercatat dalam Wahyu 9:11. Dia adalah malaikat jurang maut. Arti nama Abadon/Apolion adalah ‘kehancuran/kebinasaan’. Kata ini muncul hanya sekali dalam Perjanjian Baru (Wahyu 9:11) dan lima kali dalam Perjanjian Lama (Ayub 26:6, 28:22, 31:12, Mazmur 88:12, Amsal 15:11). Semuanya menunjuk pada kata kebinasaan dan alam maut. Dalam Wahyu 9 mulai dari ayat 1 disebutkan bahwa Malaikat Abaddon mengepalai pasukan malaikat yang akan menyakiti manusia di bumi selama 5 bulan, namun tidak membunuh mereka.

archangels200x437

Gilbert Morris dalam The Angels of Bastogne berkata, 

“Hal yang menarik tentang malaikat adalah, setiap kali mereka datang kepada seseorang dalam Alkitab, mereka berkata: “Jangan takut!” Saya yakin bahwa (penampilan) mereka sangat spektakular.”


Belajar tentang malaikat memang seru dan asyik. Namun tidak lebih penting dari belajar tentang Yesus. Tulisan ini tidak menyatakan bahwa hanya inilah penghulu malaikat yang ada, karena menurut referensi lainnya masih ada nama-nama malaikat lain yang tidak saya jelaskan di sini – walau ada juga yang berpendapat bahwa 3 malaikat utama hanyalah Mikhael, Gabriel dan Lucifer.

“An angel is a spiritual creature created by God without a body for the service of Christendom and the church.”

Leo Rosten

Terimakasih dan Tuhan memberkati!

Advertisements

Hanny Dewanti – My Personal Opinion About Her

 

20229802_10214235450266636_3173063495390614301_oAku nggak disuruh orang untuk nulis tentang dia. Suer.

Aku juga nggak nulis tentang prestasinya. Udah banyak teman yang nulis tentang ini. Aku mau nulis tentang kesan pribadiku tentang perempuan cerdas, baik, dan ramah ini.

Pertama kenal Hanny Dewanti itu lewat grup belajar nulis besutan Indari Mastuti, Founder Emak Pintar. Mak Oney, sapaan akrabnya, bikin kita semua (anggota grup belajar) kagum sama dia. Tugas-tugas dia selesaikan dengan cepat. Pas disuruh kumpul artikel, saat yang lain cuma kumpul satu, dia kumpul sepuluh, kayaknya. Pokoknya melebihi kami semua. Sampai-sampai Teh Indari terkesan dan narik dia secara khusus sebagai kontributor berbayar.

Dia juga ikut gabung grup menulis artikel tentang finansial. Lupa oleh siapa, tapi masih berhubungan sama Emak Pintar tadi. Dia itu masuk belakangan. Tapi jumlah artikelnya paling banyak. Dia kejar target katanya, karena artikel itu berbayar, uangnya mau dia kumpulin buat ikut Sekolah Perempuan, buat belajar nulis. Biayanya mahal buatku. Mayan, satu setengah jeti. Makanya aku nggak pernah bisa gabung. Waktu itu aku berharap ada komunitas lain yang bisa ajarin aku nulis, tapi biayanya masih masuk ukuran dompetku, 😀

Lalu di komunitas Emak Pintar, dia juga menarik perhatian kami semua. Dia sanggup menulis rata-rata 80 artikel dalam sebulan. Huuh gila. Jelas aku penasaran. Gimana caranya? Tapi waktu itu aku nggak deket sama dia, Nggak enak mau nanya-nanya. SKSD banget.

Lalu, tiba-tiba dia pengumuman, dia bikin training nulis fiksi. Biayanya murah bener. Aku langsung daftar. Di sinilah aku belajar kenal dia sedikit demi sedikit. Dia itu rame, keliatannya sanguin banget kalo dari komen-komennya. Ngajarnya total minta ampun. Sama sekali nggak pelit ilmu. Semuaaaaa diajarin. Sampe ke cara nulis kalimat yang bener, cara pake tanda baca yang bener, cara nulis dialog, pokoknya semua. Aku berasa kayak anak SD lagi. Tapi seneng ngejalaninnya.

Dia ngajarnya keras, deadlinenya mepet-mepet, nggak peduli anggotanya punya bayi atau mau mantu bentar lagi. Semua harus ngerjain tugas sesuai deadline. Dia selalu ingetin, editor juga nggak akan mau tau kesibukan kita apa. Editor cuma kasih deadline, kamu mau ya kumpulin, kamu nggak mau ya ditinggalin. Dunia nulis itu keras, begitu selalu katanya.

Waktu Gramedia bikin event Writing Project (GWP-3), Hanny ikut. Aku juga ikut. Naskah dia lolos penjurian tahap awal. Naskah aku engga. Tapi aku nggak iri. Memang dia nulis bagus banget. Aku belum apa-apa. Banyak plot hole, ceritaku juga datar, banyak bagian nggak penting di dalamnya. Benar-benar naskah anak ingusan. Aku memang iseng aja nyobanya. (Kalo Tuhan berkenan, aku pingin ikut GWP-4 tahun depan). Peserta yang lolos ini diundang ke Jakarta, denger sharing kepenulisan dari nara sumber yang wow banget, antara lain Kak Rosi Simamora, Tere Liye, dan Aan Mansyur.

Singkat cerita, panitia GWP-3 buka kesempatan peserta lagi lewat jalur cerpen. Iseng, aku bikin cerpen dan kirim. Puji Tuhan, lolos seleksi! Jadi aku bisa ikut juga ke acara itu.

Selain ingin ketemu langsung sama kak Rosi dan Tere Liye, aku juga pingin ketemu sama orang ini, mentorku. Agak lucu juga karena kami baru ketemu pas makan siang. Langsung aja kami wefie-an sebagai bukti ke grup nulis bikinan mak Oney ini bahwa kami akhirnya ketemuan.

20229338_10214236141643920_8456618317334592556_n

Kesanku, dia orangnya hangat.

Agak beda dengan bayanganku selama ini. Aku bayangin dia ini sukanya teriak-teriak kalo ngomong, rame, rusuh, suara menggelegar, asli sanguin.

Ternyata engga. Suaranya lembuuut.  Begitu aku samperin dan tanya, “Hanny ya?”— dia cekikikan ga habis-habis -_- Aku bingung apa yang lucu. Hahaha

Dia ramah. Kami baru ketemu hari itu tapi dia mau cerita tentang anaknya dan tentang perjalanannya dari Samarinda ke Jakarta. Aku kagum beneran sama ni emak.

Mak Hanny ini orangnya rendah hati banget, menurutku. Tanggung jawabnya tinggi. Aku nggak pernah nemu grup training nulis lain yang masih aja follow up anggota-anggotanya. Nggak pernah. Mak Hanny ngumpulin kami semua yang ingin belajar lebih banyak lagi lewat grup Facebook rahasia. Belum cukup di situ, dia bikin lagi grup whatsapp khusus untuk tugas. Siapa aja yang pernah training nulis fiksi sama dia, boleh gabung. Nggak wajib, buat yang mau aja. Dan di sana dia masih ngajarin kami lewat tugas-tugas seputar fiksi.

Luar biasa kan? Dia ini memang spesies langka, menurutku.  Tulus bener. Apalah arti uang training yang cuma dua ratus ribu itu, dibanding ilmu dan bimbingan yang masiiiiih juga kami dapat jauh selepas training berakhir?

Tau, nggak, apa yang paling bikin aku terharu?

Suatu hari Mak Hanny bikin kelas novel. Biayanya enam ratus. Aku pingin ikut, tapi nggak bisa bayar sekaligus, Jadi aku japri, bolehkah nyicil? Boleh, katanya. Berapa kali? Bebas, Senyamannya mak Ipeh aja, katanya lagi.

Dimana orang bisa nyicil semaunya? Aku pingin nangis. Dia kok nggak takut ya diboongi? Aku memang nggak ada niat kabur dari bayar, tapi kan ada kemungkinan aku mangkir bayar setelah dapat ilmu?

Mak Hanny nggak pernah mikirin itu. Dia berpendapat (dan ini selalu ada di status-statusnya) bahwa Allah itu membalas amal baik kita. Allah tau niat kita. Allah nggak diam aja kalau kita dijahati orang. Dan Allah selalu membalas niat baik kita lebih dari yang kita harap atau bayangin.  Itu aja yang dia percaya.

Aku dan seorang teman penulis di Bandung (sama-sama satu grup di Cloverline Creative) pernah ngomongin dia (ngomongi positif kok, mak Oney, :D). Menurut kami, mak Hanny ini terlalu baik sama kami. Padahal, naskah dia udah banyak dilamar sama penerbit mayor. Terus gegara status viralnya di Facebook baru-baru ini, dia langsung dilamar sama penerbit untuk bikin buku sesuai judul statusnya yang kontroversial: Nikah Itu Enggak Enak! 

Jadi Mak Hanny ini sebenarnya udah termasuk penulis sukses, di atas kami-kami inilah.  Kami ini, bikin cerpen aja masih banyak salah. Mak Hanny udah bukan di sini tempatnya. Tapi, dia selalu merasa dirinya sama dengan anggota grup Cloverline Author. Peduli banget kalo kami nggak paham sesuatu. Dia pasti ajarin. Kecuali kalau sesuatu yang kami tanya itu udah pernah dia ajarin di kelas fiksi, dia akan minta kami buka grup, baca materi.

Padahal, mak Hanny sah-sah aja tinggalin kami murid-murid trainingnya. Sah-sah aja kalo dia bosan mentorin kami. Sah-sah aja kalo dia bilang: Udah ya Mak-Emak! Saya mau konsen bikin novel sendiri. Kalian berjuanglah sesuai arahan saya selama ini.” Sah banget. Toh training udah berakhir. Dia nggak wajib terus-terusan dampingi kami.

Tapi dia nggak begitu. Dia selalu bilang, “Kalau Emak sukses, saya yang senang. Saya keprok-keprok di samping Emak. Saya pingin Emak semua sukses. Kalau mereka bisa bikin buku, kenapa kita engga? Makannya sama kok, makan nasi. Minum juga air putih. Kenapa mereka bisa, kita engga?

Berkat kesabaran dia juga ngebimbing aku, akhirnya satu naskahku dilamar sebuah webnovel. Setahun lalu aku cuma mimpi jadi penulis. Sekarang, aku cukup percaya diri, sedkit demi sedikit jalan kebuka. Aku belajar buanyaaaak dari dia. Berpikiran terbuka. Pekerja keras. Pantang menyerah. Setia kawan. Berhati besar.

Kekurangannya? Ada, pasti. Tapi aku nggak permasalahkan itu. Lah aku juga punya kekurangan, kok. Aku cuma liat yang positif aja dari dia. Menurut pendapatku, dia harus dikloning, 😀

Terima kasih ya mak Hanny.

Ipeh bangga banget punya mentor seperti Mak Hanny. Ipeh bersyukur banget Tuhan ketemuin kita lewat hobby nulis. Semoga sehat selalu, Mak. Semoga panjang usia, dan tercapai semua impiannya.

Ini kutipan favorit mak Hanny:

20264912_10209931652143980_8640444886132921056_n

Kalau Emak sukses, saya yang senang. Saya keprok-keprok di samping Emak. Saya pingin Emak semua sukses. Kalau dia bisa bikin buku, kenapa kita engga?”

Hanny Dewanti.

 

 

 

INDIGO CHILD — AM I?

 

 

Apa sih artinya Anak INDIGO?

Menurut Wikipedia, anak Indigo adalah anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Atau, ada juga yang mengatakan bahwa anak indigo adalah anak yang punya indra ke enam.

Ada banyak ciri anak indigo. Beberapa cirinya tidak umum ditemui, misalnya, “memiliki sensitivitas terhadap elektrik sehingga membuat jam berhenti berdetak, alat musik mati, hingga lampu pecah ketika anak indigo mendekatinya.”
Sumber: 34 Ciri-Ciri Anak Indigo: Mereka Bukan Aneh, Hanya Berbeda – Mediskus

Salah satu ciri lainnya adalah, bisa melihat roh, atau mendengar suara-suara, atau menyadari kehadiran dunia lain.

Anak indigo itu sangat empati terhadap orang lain. Dia bisa menangis melihat peristiwa mengharukan sederhana, lalu tertawa terpingkal-pingkal saat sesuatu yang lucu terjadi. Anak Indigo benar-benar merasakan jadi orang lain.

Anak Indigo biasanya bermasalah dengan sekolah. Mereka suka bertanya ‘kenapa ini? kenapa itu?’, karena pada dasarnya mereka cerdas. Anak indigo jarang puas dengan jawaban yang nggak sampai ke akar masalahnya.

Anak Indigo biasanya punya keinginan kuat untuk tahu tujuan hidupnya. Mereka juga biasanya ‘rohani’ atau saleh, tapi tidak sampai jadi dogmatis, apalagi jadi fanatik. No. Anak indigo nggak fanatik terhadap agama. Justru mereka sangat berpikiran terbuka.  (https://thoughtcatalog.com)

Saya INDIGO-kah?

Saya mengecek beberapa situs tentang indigo karena nggak yakin bahwa saya indigo. Tapi, semakin mencari, semakin saya lihat beberapa cirinya ada pada saya.

Sedari kecil saya bisa mendengar dan melihat. Ada banyak jenis makhluk yang saya lihat, terutama berwujud manusia. Kadang dia meniru orang yang saya kenal, misalkan Bapak (alm). Pernah juga makhluk itu berwujud malaikat maut (sampai sekarang saya tidak tahu, yang saya lihat itu benar-benar malaikat maut atau makhluk gaib yang menyamar, untuk menggaanggu saya).

Setelah saya dewasa, saya sempat lega karena kemampuan melihat dan mendengar ini hilang. Jelas saya senang. Saya berdoa supaya anak-anak saya nggak mewarisi ke-indigo-an saya. Saya nggak tega.

Tapi beberapa tahun belakangan ini kemampuan saya datang lagi.

Saya pernah tidur di sofa pagi-pagi waktu anak sekolah. Rumah sepi. Saya ingin tidur sejam saja supaya kuat mengetik. Saya tertidur, memang.

Tapi dalam tidur saya itu, saya membuka mata dan ternyata ruangan yang saya tempati berbeda betul dengan rumah sewaan saya. Ruang yang saya lihat lebih kuno. Dapurnya gelap, banyak panci bergelantungan di dindingnya. Temboknya bewarna kuning, bukan putih. Saya paksa ‘buka’ mata saya yang sebenarnya, alias memaksa diri untuk bangun, tapi nggak bisa.

Sementara saya merinding dan kebas dari kepala sampai kaki, dan badan saya yang nggak bisa digerakkan, ada seorang anak kecil, laki-laki, kira-kira usia 6 tahun, berdiri di sebelah sofa, menatap saya sambil tersenyum. Waktu dia dekat saya itu, jantung saya rasanya mau melompat. Saya berdoa minta tolong pada Tuhan, saya menyanyi lagu gereja apa saja yang mampir di kepala, tapi anak itu tetap di sana dan badan saya tetap kaku, kebas seperti kesemutan, dan merinding. Ini berlangsung kira-kira satu jam, baru semua sensasi hilang.

Saya buru-buru duduk, minum, lalu kerja seperti biasa.

Di lain hari saya tidur siang. Lalu ujung kaki dan tangan saya mulai kesemutan. Saya tahu ini saatnya saya ‘melihat’. Betul. Ada kepala sangat besar di lantai, berbulu seperti kera, Lalu saya mengangkat tangan saya, mau bangun, tapi tangan saya pun berbulu, Saya nangis. Saya pikir ini nyata. Benar-benar seperti nyata.

Anak saya yang kecil ada di luar. Kakaknya masih sekolah. Sementara saya diganggu, saya berdoa supaya si Sulung cepat pulang, karena kalau dia pulang biasanya langsung masuk kamar, yaitu kamar yang sedang saya tempati siang itu.

Anak bungsu lalu ke luar membuka pagar. Saya dengar mereka ngobrol sambil masuk ke rumah. Wah, leganya saya. Sebentar lagi makhluk berbulu ini lenyap kalau ada orang masuk ke kamar.

Tapi anak-anak saya malah asyik di depan laptop! Mereka ngobrol soal game. Saya panggil yang sulung, rasanya udah teriak-teriak tapi yang keluar cuma desahan.

Lalu tiba-tiba sensasi itu hilang. Saya langsung duduk lalu tanya si bungsu, mana si kakak. Apa jawab si bungsu?

Kakaknya belum pulang.

Aneh, ya kan? Yang saya lihat dan dengar itu siapa? Inilah maksud saya bahwa supranatural itu bisa mengambil bentuk orang yang saya kenal.

Dan kemarin malam, saya tidur jam 1 dini hari, sendirian. Selagi dengar musik supaya nggak terlalu sepi, ada yang datang ke kamar saya. Saya berdoa, menyanyi, berdoa lagi. Lalu saya ‘keluar’ kamar, mau pindah ke kamar anak.

Tahu nggak? Waktu saya sampai di depan pintu kamar, saya diangkat tinggi-tinggi sampai ke langit-langit di depan kamar mandi. Saya teriak ketakutan. Lalu saya tutup ‘mata’. Dalam gelap, saya bisa lihat semua ruangan dengan jelas. Lalu saya diterbangkan ke kamar saya, lalu dibaringkan ke tempat tidur. Saya berdoa sekali lagi, lebih ngotot, lebih maksa, supaya Tuhan membuka mata saya yang sebenarnya, bangunin saya, dan hilangin makhluk yang nggak bisa saya lihat itu.

Ya, makhluk yang semalam ini nggak ada wujudnya, tapi saya bisa merasa dia ada.

Sekitar jam 2, saya benar-benar bangun. Jantung saya berdebar keras, kaki saya lemas. Lalu saya pindah ke kamar anak, peluk si kecil. Saya tidur sampai pagi, tapi nggak tenang.

Saya nggak berani klaim bahwa saya anak INDIGO.

Walau memang betul, saya bisa melihat, mendengar, dan merasa hal-hal supranatural, saya kreatif, bisa bercerita, tapi masih banyak ciri anak INDIGO yang nggak saya punya. Misal, telepati, telekinesis, pintar secara akademis, lebih dewasa dari usia sebenarnya (saya malah kebalikan, -_-).

Rasanya saya bukan anak INDIGO.

Tapi kalaupun iya, nggak ada keuntungannya buat saya. Indigo atau tidak, saya tetap masih bisa merasa hal-hal gaib tanpa saya minta. Dan, ini tidak enak.

Seriously.

 

The supranatural is the natural not yet understood.

Elbert Hubbard

14900484_10211520237068003_5284230994910676869_n

 

Where Are Christian Writers?

 

51185-jim-rohn-quote-you-cannot-make-progress-without-making-decisions

Tulisan ini hanya untuk mengeluarkan kerinduan saya sebagai penulis pemula.

Teman-teman seiman yang tersayang.

Saya baru mulai menulis tahun 2016. Awalnya, saya cuma suka nulisin cerita tentang Adek, panggilan untuk anak bungsu saya. Saya punya banyak kekaguman terhadap dia, jadi saya mulai tulis ceritanya. Ternyata, gaya tulisan saya cukup disukai teman-teman dunia maya. Saya semakin percaya diri untuk menulis. Saya bukan cari ‘like’ – walau ‘like’ itu salah satu penanda bahwa tulisan status kita disukai orang.

Berbekal itu, saya mulai ngintip grup menulis. Lalu belajar di sana. Awalnya belajar nulis artikel dulu. Lalu mulai berani ikut lomba. Lebih banyak ditolaknya, daripada yang lolos seleksi, :D. Tapi saya nggak menyerah. Saya tetap rajin ikut lomba, rajin belajar di grup-grup nulis. Ada yang gratis (biasanya via Telegram) ada juga yang berbayar (biasanya via Facebook Group).

Lalu saya iseng-iseng mendaftar jadi Penanggung Jawab Event sebuah lomba bersama penerbit tertentu. Puji Tuhan – saya lulus. Saya diterima menjadi PJ Event tersebut. Mulailah hari-hari saya sibuk dengan membuat narasi untuk poster, membuat page (karena berdasarkan pengalaman, lomba bisa diikuti oleh ribuan peserta, dan kalau ribuan orang itu meminta pertemanan dengan saya (sebab itu adalah salah satu syarat yang saya buat – berteman dengan saya di FB) – maka saya bisa kehabisan seat buat teman-teman baru. Jumlah teman dunia maya di FB hanya boleh 5,000 orang,

Makanya, saya bikin FanPage. Bukan berarti saya sok ngartis – enggak. Itu untuk menyiasati kalau akun pribadi saya udah nggak bisa menerima pertemanan baru. Mereka bisa follow saya di FP.

Dari ratusan orang yang baru berteman dengan saya ini, sedikit sekali yang beragama Kristen. 98 persen adalah teman-teman Muslim. Luar biasa! Teman-teman terbaik saya di grup menulis pun mayoritas Muslim. Dan kami baik-baik saja. Kami cuma bahas dunia menulis, bukan agama, bukan politik. Agama dan politik itu rentan memecah belah persaudaraan – udah terbukti kan.

Saya, di tengah-tengah aktivitas saya memeriksa daftar teman yang baru, merasa bingung. Kemana semua tenan-teman Kristen? Nggak adakah yang tertarik belajar menulis? Jangan bilang bukan bakat. Yang berbakat, kalah sama yang berusaha keras. Memang yang berbakat lebih cepat belajar. Tapi yang berusaha keras pun akan rewarded.

Padahal, Injil itu untuk disebarluaskan, baik dalam bentuk audio maupun visual. Kita masih kekurangan penulis cerita Kristen. Kita masih kurang bacaan anak dengan nilai-nilai kristiani. Coba aja main ke toko buku besar semacam Gramedia. Kebanyakan buku narasi Kristen di sana adalah buku impor. Cetakannya bagus tapi harganya mahal. Kenapa kita nggak belajar menulis supaya bisa menerbitkan bacaan anak dengan nilai-nilai kristiani untuk kalangan sendiri?

Kitab Suci kita juga ditulis, Tuhan membimbing Musa menuliskan lima kitab Taurat. Padahal coba kita pikir, Musa belajar menulis dari mana? Tapi sampai sekarang, tulisan Musa ini masih ada dalam Alkitab. Juga seluruh Alkitab kita – apa semuanya ditulis oleh penulis? Nggak. Ada yang profesinya penyanyi. Ada tabib. Ada gembala ternak. Yang mana yang murni penulis? Mereka bisa menulis karena mereka MAU dan mereka DIPIMPIN dan DIBIMBING Allah Roh Kudus.

Ayo, teman-teman seiman. Nggak usah malu belajar menulis. Awalnya mungkin aneh. Tapi kalau udah terbiasa, pasti bisa menulis dengan baik, menulis dengan tujuan, menulis yang dipahami orang, nggak menimbulkan ambigu. Tau ambigu nggak? 😀

Jangan takut memulai menulis. Semua orang pasti pernah salah. Makanya ada penghapus. Siapa sih penghapus bagi para penulis? Teman-teman dalam grup menulis. Merekalah yang menolong kita makin baik tiap hari. Jangan takut tulisannya dikritik. Dengan kritik, cara menulis kita berkembang. Pujian itu bikin jatuh. Kritiklah yang membuat kita makin berkembang. Amin?

profesional writer

 

The Big Secret of Learning English

Sekarang guw tau ken (1)

Saya ini bukanlah guru bahasa Inggris. Tulisan ini cuma sharing kembali dari langganan email yang saya ikuti. Jadi, saya nggak ngajarin ya. Hanya berbagi tips. Semuanya tergantung dari teman-teman sendiri, apakah mau ikut dengan cara ini atau engga.

Supaya bisa bahasa Inggris, kita harus perlakukan Bahasa Inggris sebagai teman. Jangan dimusuhi. Apa maksudnya?

Coba cari cara yang enak untuk belajar. Tiap orang punya cara belajar yang berbeda.

  • Nonton film-film berbahasa Inggris dan jangan perhatikan teksnya. Abaikan saja. Coba mengerti kalimat-kalimat itu sendiri tanpa bantuan teks.
  • Dengar lagu berbahasa Inggris.
  • Gabungkan bahasa Inggris dengan hobby kamu. Misal, kamu suka baca novel. Cari novel berbahasa Inggris. Atau kamu suka masak? Cari resep berbahasa Inggris dan coba buat, kalau memungkinkan. Fotografi? Ikut klub fotografi berbahasa Inggris supaya kamu belajar istilah-istilah baru. Suka nyanyi? Dengar lagu berbahasa Inggris dan coba mengerti artinya. Jangan hanya bisa nyanyi ya, harus tahu apa isi lagunya.

Coba pakai bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari. Tapi, jangan sepanjang hari! Ambil waktu 10 – 30 menit untuk melakukan minimal satu di antara kegiatan di bawah ini:

  • Tulis email atau jurnal dalam bahasa inggris. Jangan takut salah. Tulis dulu saja,
  • Tulis daftar belanja, to do list, agenda, dan lain-lain  dalam bahasa inggris.
  • Cari buku novel berbahasa Inggris yang mudah, baca 10-15 menit sebelum tidur.
  • Dengarkan 1 lagu berbahasa Inggris
  • Baca headline dalam bahasa Inggris. Ada banyak online newspaper yang bisa kita baca setiap hari. Pilih 1 artikel saja untuk dibaca dan coba pahami.
  • Ubah setelan bahasa gadget kamu ke dalam Bahasa Inggris. Mulanya memang susah, tapi lama-lama pasti terbiasa.

 

Nah, silakan teman-teman pilih sendiri mana aja yang mau dilakukan mulai sekarang.

Tips berikutnya saya bagikan beberapa hari lagi ya. Stay tune!

My Youngest, Noel Christopher Joy P.S.

16113096_10212344954085413_55233456656952177_o

Ini cuma sharing tentang Noel, anakku si bungsu. Aku sering cerita tentang Noel dan kelucuannya lewat status FB. Status itu tercecer selama bertahun-tahun, sulit dilacak. Nanti kalau ada memory dari FB, aku mau satukan di blog ini.

Noel mulai sekolah waktu di Medan. Waktu itu dia baru usia 3,5 tahun. Dia sekolah di TK Kristen dekat rumah. Nama gurunya Ms. Kartini, guru muda yang cantik.  Ms. Kartini sangat sayang pada Noel karena Noel paling muda usianya di antara semua murid TK A. Iyess.. Noel ngga masuk Playgroup. Dia pingin di TK karena ada belajar nulis. Playgroup cuma main, dia ga suka, aku juga ga suka.

1910452_1071627317362_387220_n
Noel dengan seragam sekolahnya di Medan. Ini di teras rumah Opungnya, pulang sekolah.

Noel suka duduk di pangkuan Ms. Kartini kalau lagi doa gabungan. Saat orang-orang menutup mata dan berdoa, Noel membuat bentuk segitiga, lingkaran dan persegi dengan jari-jarinya. Dia ngga ikut berdoa. Ms. Kartini memegang tangannya supaya dia berdoa, ngga main-main aja. Noel pun melipat tangan, menutup mata rapat-rapat, tapi mulutnya berbisik: ‘Segitiga! Lingkaran! Persegi!’ sambil keningnya berkerut.

Ms. Kartini pun menyerah. Ngga mungkin dia bekap mulut Noel. Akhirnya dia senyum-senyum sendiri karena Noel tetap sibuk dengan pikirannya padahal anak lain lagi nyanyi dan berdoa.

Begitulah Noel. Pikirannya selalu sibuk. Bahkan sampai sekarang.

268200_2273819851424_2345757_n
Noel dengan seragam TKK Penabur Guntur,

Lalu kami pindah ke Bandung. Dia masuk TKK Guntur. Nama gurunya adalah Ms. Sri. Waktu pertama kali Ms. Sri bawa dia ke kelas, anak-anak TK A protes. “Misssss…. kog dia masih kecil udah masuk TK? Harusnya kan playgroup misssss…?” Begitu cerita Ms. Sri ke aku. Ms. Sri cuma tersenyum lalu jawab: “Nggak apa-apa dong, Noel pingin sama kakak-kakak di sini, boleh ya?” Kira-kira begitulah jawabnya. Noel memang baru usia 3,5 tahun waktu itu. Seharusnya usia 4 tahun baru bisa masuk TK A.

Jadilah Noel murid TK A. Dia suka diajar sama Native teachernya, Mr. Matthew. Dia berani menjawab, berani komunikasi dalam bahasa Inggris. Tapi, dia selalu ketiduran kalau ada trip ke luar sekolah, dan tidurnya selalu di pangkuan Ms. Sri. Benar-benar anak kecil.

Lalu tahun berikutnya, dia belum bisa lanjut ke TK B. Tulisan tangannya masih amburadul karena dia masih umur 4,5 tahun. Dia pun mengulang di TK A. Sekarang dia sama besar dengan teman-teman sekelasnya. Gurunya masih sama, supaya dia tenang, walau temannya berbeda, dia punya guru yang dia kenal baik. Setelah itu dia lanjut ke TK B, dan tahun depannya lulus dari Kindergarten.

273066_2239008821170_4789894_o
Di dalam balon ini dia menulis cita-citanya, ingin menjadi dokter. Lalu balon diterbangkan ke langit (waktu itu belum ada larangan menerbangkan balon ke langit). – Graduation from Kindergarten June 17, 2011

Lalu, dia duduk di bangku SD.

Dia mulai pulang lebih siang. Pulang sekolah dia langsung tidur. Capek, katanya. Baru beberapa minggu sekolah, aku dipanggil sama WK-1.

“Mami, Noel sering ngga konsentrasi di kelas. Tolong Mami jangan belikan penghapus yang bentuk lucu-lucu ya, soalnya sama dia dimainin di kelas, jadi ngga memperhatikan saya.”

Oke. Di rumah, aku tanya Noel, kenapa main-main penghapus di kelas. Jawabnya: “Habis gurunya ga asik. Pelajarannya semua membosankan. Noel ga suka kelas 1. Enakan di TK, Mummy…”

Oalah. Noel nggak suka sekolah. Meniru siapakah? (Diam-diam, aku ngacung di belakang).

308844_2689236036569_210646865_n
Hari pertama di kelas 1.
308826_2689236076570_952354093_n
Baris di depan kelas, hari pertama di kelas 1, Juli 2011

Seiring waktu aku makin lihat bakat dan minat Noel. Dia sukanya seni. Dia suka di Paduan Suara, dia pilih ekskur biola, melukis, lalu ikut ekskur robotik dan skaci di kelas 6. Semua yang berbau seni, musik dan design.

Noel makin menunjukkan minat di bidang IPA dan seni. Pelajaran-pelajaran hafalan itu sulit banget buat dia. Dia nggak suka lari-lari di lapangan. Dia kalem: duduk tenang di kelas waktu istirahat dan nikmati bekal makan siangnya. Awal-awal sekolah dia suka ke perpustakaan. Dia selalu baca buku pengetahuan, seperti WHY.

412348_10200400019389511_1274894097_o
Noel usia 8 tahun, tahun 2012.

Di kelas 6, dia mulai kesulitan. Dia nggak suka belajar yang terlalu cepat. Di kelas 6 ini memang konsentrasi para guru adalah Ujian Nasional. Berbulan-bulan mereka ulangan, Try Out, ulangan lagi, Try Out lagi. Capek, katanya. Pada waktu-waktu dia capek, dia ga bisa disuruh belajar. Dia menggambar. Dia bikin cerita di laptop. Kalau aku suruh belajar, dia ambil buku, lalu baca. Tapi belum 10 menit, udah ketiduran.

Terus terang aja aku masih kuatir sama nilai ujian nasional dan ijasah kelulusan Noel. Dia santai-santai aja. Dia senang bukan kepalang karena UN udah selesai. Semoga aja cukup bagus, semoga aja semua di atas KKM atau target yang dia buat.

Masih aku ingat waktu Noel sakit, baru-baru ini, sebelum UN, aku bawa dia ke Hermina. Sambil memandang anak-anak kecil yang sakit di sana, dia berbisik, padahal dia baru aja muntah-muntah, “Mum, kalau Noel udah gede, Noel ingin jadi dokter, supaya anak-anak kecil nggak mati karena sakit.”

Ini bermula dari film yang kami tonton sebelumnya, tentang anak yang mati karena tenggelam di bath tub. “Kasian kalo anak kecil mati. Seharusnya umurnya masih panjang.” katanya.

Aku melabel Noel sebagai anak yang lembut hati – walau kalau ke Nathan dia galak. Tapi dari responnya selama ini kalau kami nonton film atau lihat kejadian-kejadian sekitar, aku tahu dia sebenarnya anak yang sensitif. Dia gampang empathy. Perasa. Melankolis, mungkin. Yang pasti, dia ada kholeric-nya.

16472959_10212467953120312_6502142736929060057_n
Noel. 2016, waktu Nathan sakit kami belikan Pizza supaya dia  mau makan. Noel yang mengusulkan waktu aku tanya, “Abang sakit, ga mau makan, kita beliin apa ya Dek?” Noel ingat Abang suka pzzza.  Jadi, di sinilah kami. Pizza Hut Buah Batu.

Jadi, sekarang UN dan UASBN sudah selesai. Riuh rendah kelas- kelas ujian tadi pagi waktu bel terakhir berbunyi  menandakan betapa leganya anak-anak ini karena semua sudah selesai. Tekanan, Kelelahan. Ulangan. Tugas-tugas. Semua selesai – sampai nanti tahun ajaran baru dimulai – babak baru pendidikan juga dimulai.

SMP St. Angela menunggu.

16143267_10212311435447468_2055271374426304781_n
Noel waktu pergi ke acara Hear Camp kelas 6 – pertama kali dia menginap tanpa orangtua.

Toleransi Bersahabat

true friendship

Belakangan ini,  media sosial ramai dengan berita politik yang sudah memanas sejak Pilkada DKI Jakarta, berujung pada penahanan Gubernur DKI Jakarta yang sekarang menjadi non-aktif, Basuki Tjahaya Purnama,

Sontak, aksi membela keadilan dan perdamaian marak di negeri ini, bahkan sampai ke luar negeri. Saya – sudah jelas terlihat dari status-status saya – adalah pengagum sang Gubernur. Tapi kemudian, perhatian saya beralih kepada Wakil Gubernur yang sekarang menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI, Bapak Djarot.

Foto Bapak Djarot yang paling viral adalah ketika matanya berkaca-kaca saat menyanyikan lagi Tanah Airku di Balaikota, sehari setelah penahanan Ahok, dalam Paduan Suara Balaikota yang dipimpin oleh Addie MS. Kata yang paling banyak dipakai adalah “sahabat” Ya. Djarot adalah sahabat Ahok. Dia terluka saat sahabatnya terluka. Dia menangis, saat sahabatnya pun mungkin menangis di penjara. Tapi jangan lupa, dia tetap bekerja, sama seperti yang diinginkan sahabatnya dari dalam penjara. Dia bahkan bersedia menggantikan sahabatnya di penjara. Bersedia menjadi penjaminnya bila sahabatnya diijinkan menjadi tahanan kota. Luar biasa. Djarot bukan saudara kandung Ahok. Bukan. Dia beda suku. Beda agama. Beda silsilah keturunan. Dia “bukan siapa-siapa”nya Ahok.

Dia sahabat Ahok. Itu saja.

Tak semua orang punya sahabat. Tak semua orang punya orang yang bukan berhubungan keluarga dengannya, tapi dekatnya menyamai – kalau tidak melebihi – saudara kandung. Kenapa seorang sahabat bisa melebihi saudara kandung? Memang ada saudara kandung yang juga menjadi sahabat paling dekat, tapi kemungkinan jumlahnya masih lebih sedikit daripada sahabat tanpa hubungan saudara.

Persahabatan muncul karena dua atau lebih orang berkomitmen untuk saling mendukung, saling menguatkan, saling mengasihi – apapun kekurangan pihak lain -, saling menjaga, saling percaya, saling menghormati.

Sahabat bisa berbeda suku, agama, ras, jenis kelamin, negara, pandangan politik, minat, hobby. Saya punya beberapa sahabat yang tidak seminat dengan saya, tapi sangat mendukung dan menyemangati saya waktu saya baru mulai menulis. Mereka membaca tulisan saya, memberi pendapat, mendengarkan cerita saya tentang dunia kepenulisan. Mereka bukan penulis. Kemungkinan mereka tidak akan pernah tertarik untuk menulis, malah. Tapi, mereka bersedia menjadi pendengar terbaik saya. Merekalah sahabat saya.

Dalam bersahabat, juga ada norma-norma yang harus diperhatikan – persis seperti toleransi beragama.

  • Tidak memaksakan kehendak.
  • Menghormati pandangan dan keputusan yang lain..
  • Tidak menjelek-jelekkannya di belakang.
  • Bisa dipercaya.
  • Seiya sekata, senasib sepenanggungan.
  • Menghargai keunikan karakter masing-masing.

Dan ini semua berlaku dua arah. Kalau saya ingin dihargai, saya harus menghargai dia. Kalau saya ingin bisa mempercayai dia, saya sendiri harus bisa dipercaya. Kalau saya berharap dia maklum atas sifat jelek saya, saya pun harus maklum atas sifat jelek dia.

Sulit? Ya. Karena kita cenderung egois dan egosentris. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan.

Sahabat itu mahal harganya. Bukan semua teman bisa naik derajat menjadi sahabat. Teman masih ada yang menjatuhkan. Sahabat selalu mendukung. Teman masih ada yang ngomongin kita di belakang. Sahabat menahan mulutnya dan membela saat sahabatnya diserang atau dihina.

Bagaimana kalau sahabat kita memang melakukan kesalahan yang menjatuhkan dia? Apa yang harus kita lakukan sebagai sahabatnya? Bukan membenarkan, tapi meminta pengertian dari pihak penyerang. Setiap orang pasti pernah jatuh. Setiap orang punya kelemahan. Seorang sahabat bukan menyerang, tapi menegur sahabatnya dengan kasih. Mengingatkan apa yang salah. Mengembalikan kepercayaan diri. Menemani sampai akhir.

Itu sebabnya, pak Djarot bersedia menjaminkan dirinya dan mendaftarkan KTP-nya sebagai penjamin sahabatnya. Lepas dari Ahok itu salah atau tidak (sebab masing-masing kubu memiliki pandangannya sendiri, dan tulisan saya ini adalah untuk semua pihak), Djarot mengambil sikap yang sangat mulia. Dia menunjukkan dukungannya pada Ahok. Dia tidak meninggalkan Ahok. Dia sedih, dia ikut merasakan ketidakadilan. Dia merasakan kepedihan sahabatnya. Itu sebabnya, dia berkata dia berani “pasang badan” untuk Ahok. Luar biasa! Kamu sendiri, berani pasang badan untuk sahabatmu?

Menjadi sahabat itu bukan hal gampang. Butuh waktu, komitmen, pengorbanan dan pengertian dari KEDUA BELAH PIHAK. Bukan hanya sepihak. Bukan “enak di elu ga enak di gue”.

Bahkan Salomo sudah mendefinisikan arti seorang sahabat, ribuan tahun yang lalu:

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Amsal 17:17

tolerance

A Man Named AHOK

btp2

Sejak dia menjadi gubernur, banyak orang yang membicarakan Ahok. Dia menjadi trending topik Indonesia, bahkan dunia.

Dia adalah seorang keturunan China, suatu suku keturunan yang, entah kenapa, sampai sekarang belum bisa dianggap sebagai bangsa Indonesia. Padahal keturunan Arab bisa dianggap sebagai pribumi.

Lalu, dia seorang Kristen. Agama yang, entah kenapa juga, dianggap ancaman oleh beberapa golongan dari agama mayoritas di negeri ini. Padahal selain Kristen dan Katolik, ada agama lain, semisal Hindu dan Budha. Tapi kedua agama itu tidak pernah dianggap ancaman.

Bahkan untuk urutan pengamanan saat merayakan hari besar agama, hari raya gerejawi semisal Natal dan Paskah dan rangkaian acaranya, adalah hari-hari raya yang harus dikawal oleh polisi dan militer. Bukan pemandangan aneh lagi kalau tiap Natal dan Paskah, ada mobil dan personil keamanan, baik polisi dan PM yang menjaga gereja-gereja. Bagai negara terjajah saja.

Ahok mewakili kaum ‘minoritas’ di Indonesia: dia China, Kristen pula. Dia dibenci, sekaligus dipuji. Dia dicaci, sekaligus dipuji, oleh pembenci dan pendukungnya. Dia dianggap ancaman – terutama karena dia membuat anggaran Pemkot DKI susah dikorupsi. Semua gerak-geriknya diamati. Semua perkataannya dicermati, dicari-cari kesalahannya. Padahal dialah yang membuat Jakarta sekarang semakin rapi, bersih, dan layak disebut ibukota.

Kasus Ahok yang bermula dari kunjungannya ke Kepulauan Seribu, dan ucapannya di sana diedit oleh seseorang berinisial BY, dan mengantarnya ke pengadilan negeri. Dia dianggap menista agama.

Anehnya, tidak semua pemeluk agama tersebut setuju. Hanya beberapa golongan saja. Beberapa golongan itu lalu mulai disinyalir sebagai pemecah bangsa. Lalu mulailah marak tagar SaveNKRI. Orang mulai resah. Ada sekelompok golongan tertentu yang mau memecah belah Indonesia, terutama saudara-saudari Muslim. Mereka kini terbagi dua: ada yang mencela, ada yang memuja.

Yang mengerikan adalah saat Pilkada DKI. Ketika kita semua yakin, penduduk DKI adalah orang-orang cerdas yang tidak bisa dipengaruhi oleh isu agama,  ternyata, Ahok dan Djarot kalah. Dan kalau kita melihat video yang beredar di kalangan tertentu, ternyata mereka mengancam dan menakut-nakuti para calon pemilih  dengan doa yang menurut saya lebih berupa kutukan. Mungkin – sekali lagi mungkin – itu sebabnya para pemilih ini menjadi takut, karena mereka merasa terancam keselamatannya – terutama akhirat – berurusan dengan pilkada ini.

Tapi di situlah Ahok semakin bersinar. Dia tetap legowo. Dia mengucapkan selamat kepada pihak pemenang pilkada. Dia kembali bekerja menuntaskan pekerjaannya yang masih menjadi tanggungjawabnya. Tidak sekalipun terpikir oleh Ahok untuk ‘menyelamatkan’ kas DKI untuk kepentingannya sendiri, mengingat masa jabatannya hanya tinggal lima bulan lagi. Dia juga masih harus menanti keputusan pengadilan terhadap tuduhan kasus penistaan agama – yang diyakini banyak orang sebagai hal yang mengada-ada. Saksi-saksi yang diajukan tidak ada yang mendengar secara langsung perkataan Ahok di Kep. Seribu, dan hanya mendengar video editan BY, yang sebetulnya sudah mengaku bahwa ia ‘menghilangkan’ beberapa kata dari kata-kata asli seorang Ahok.

Balaikota penuh dengan ribuan papan bunga berisi ucapan terima kasih atas kinerja Ahok dan Djarot selama ini. Setelah bunga, muncul balon merah putih. Balai Kota seperti sedang menggelar acara pernikahan istimewa tokoh masyarakat yang luar biasa terkenal. Tapi mungkin saja itu benar. Ahok telah memikat hati banyak orang dengan kejujuran, ketegasan, keberanian, dan rasa sosial yang tinggi. Banyak orang ‘jatuh cinta’ padanya. Ahok telah memikat hati kita bagai seorang pengantin laki-laki terhadap pengantin perempuannya. Salah satu papan bunga berkata: “Dari cupuers yang tidak bisa move on.” Atau: “Dari kami yang harus putus, saat lagi sayang-sayangnya.”

Ahok kemudian divonis penjara selama 2 tahun – dan ini membuat Indonesia lebih terguncang lagi. Saat sidang berlangsung, ratusan – kalau tidak ribuan – orang membawa bunga merah dan putih ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara dan menyulapnya menjadi taman bunga.

Ribuan orang mengganti Profile Picture Facebook-nya dengan pita hitam dengan tulisan RIP Indonesia Justice. Status-status singkat dan tagar-tagar baru bermunculan. Semua menyatakan kesedihan dan kekecewaan terhadap sistem peradilan hukum di negeri ini. Termasuk tulisan saya.

Bagaimana dengan Ahok sendiri?

Saya melihat di televisi, dia tetap tenang, tersenyum saat turun dari mobil yang membawanya ke LP Cipinang, tempat dia akan ditahan selama 2 tahun ke depan. Dia seperti sudah tahu bahwa ini adalah salah satu kemungkinan yang akan terjadi.

Saya juga tertarik melihat reaksi istrinya, Ibu Veronika. Dia wanita yang kuat. Kalau suami saya yang ditahan. saya pasti akan menangis menjerit meminta keadilan. Tidak dengan Ibu Veronika. Dia tenang. Walau saya yakin hatinya terpukul, dia bisa menahan emosinya dan membawa dirinya dengan baik. Luar biasa. Betapa saya ingin menjadi sedikit saja seperti beliau. Ketenangannya. Keyakinannya. Imannya. Semua luar biasa bagi saya.

Saya sedih bahwa Indonesia telah turun derajat menjadi negeri yang mengalami kemunduran. Kasus Ahok ini diikuti oleh dunia. Putusan sidang Ahok langsung menjadi berita utama di berbagai media berbahasa Inggris: Ahok: A Christian Governor, Found Guilty of Blasphemy, was Sent to Jail for Two Years.

Memang masih banyak langkah yang mau diambil oleh tim Ahok. Dia mengajukan banding. Wakil Gubernur Djarot, yang telah diangkat menjadi PLT Gubernur, juga menyatakan akan mengupayakan agar Ahok menjadi tahanan kota. Para pendukung Ahok masih ramai berorasi di depan LP Cipinang – sampai tulisan ini saya buat.

Akhir kata, mari doakan keluarga Ahok: Ibu Veronika, Nicholas Sean, Nathania dan Daud. They really need our prayers.

Ahok. Tak kurang kata yang telah dikirim untuk menyatakan dukungan padanya. Tak kurang kata cinta dan pujian yang dinyatakan atas prestasi kerjanya dan kemuliaan karakternya. Saya berdoa, ya, berdoa, walaupun akhirnya harus seperti Ahok, anak-anak saya akan tetap tumbuh jadi pribadi yang punya integritas tinggi. Mungkin memang semua orang Kristen harus mati sebagai martir. Dan dunia yang semakin gampang sekaligus jahat ini, adalah ladang yang harus dikerjakan oleh ahli waris negeri, termasuk oleh anak-anak saya.  Saya berdoa, anak-anak saya tetap teguh dalam iman pada Yesus Kristus, tidak akan terombang-ambing, karena reward sesungguhnya bukanlah dari dunia, tapi dari Allah sendiri.

Saya yakin, bahwa Ahok tahu, dia akan mendengar suara Tuhan berkata ini padanya:

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Matius 21:25

Karangan-bunga-Ahok-di-depan-balaikota-Bagus-2-1
Papan BUnga ucapan Terima Kasih di Halaman Balai Kota, Mei 2017
59101d8dc0d65-balon-merah-putih-penuhi-halaman-balaikota-dki-jakarta_663_382
Ribuan balon menyerbu halaman Balai Kota Jakarta setelah fenomena papan bunga.

habakuk1

Remembering My Late Father In Easter Time

263917_2274012656244_6691406_n
Foto diambil  tanggal 26 Desember 2009. Noel, 4, dan Nathan, 9.

Aku sering inget Bapak waktu Paskah tiba.

Nggak, dia meninggal bukan di hari Paskah, tapi di masa Natal. Dia meninggal tanggal 23 Desember 2009. Tapi ada alasannya aku inget Bapak di masa Paskah.

Dulu aku ini bergereja di HKBP, sampai aku nikah baru pindah ke GKI. Waktu aku masih kecil, suatu Minggu Paskah kami pergi ke pemakaman orang Kristen di Pontianak. Aku waktu itu berjemaat di HKBP Kota Baru. Banyak jemaat yang juga ikut kebaktian subuh itu. Dengan penerangan seadanya, Pendeta kami memimpin ibadah Paskah di tengah-tengah lingkaran jemaatnya yang tersebar di makam keluarganya masing-masing. Kami semua khidmat ngikutin kebaktian itu. Aku, yang belum terlalu ngerti, ikut duduk di makam anak kembar seorang kakakku. Lalu waktu kebaktian selesai dan kami semua membersihkan makam keluarga masing-masing, aku tanya ke Mama, kenapa kita berkebaktian di kuburan. Mama bilang, itu karena Paskah adalah hari kebangkitan Yesus. Dan nanti kalau Yesus datang lagi, orang mati akan duluan bangkit. Jadi kita bikin kebaktian di sana untuk mengingat bahwa keluarga kita itu akan dibangkitkan lagi.

Waktu Bapak meninggal, aku baru satu setengah tahun tinggal di Bandung sama Jeffry dan anak-anak. Sebelum pindah ke Bandung, kami tinggal di Medan selama satu setengah tahun juga. Dan sebelum pindah ke Medan, kami tinggal di Jakarta. Jadi Nathan, si sulung, pindah sekolah selama 3 kali semasa SD: sampai kelas 1 dia sekolah di Jakarta. Kelas 1 semester 2 sampai kelas 2 dia di Medan. Lalu kelas 3 SD sampai sekarang kelas 11 (SMU), kami tinggal di Bandung.

Selama di Medan, kami tinggal dekat rumah Bapak. Cukup jalan kaki aja, kami sampai di rumahnya. Jadi kami sering main ke sana. Bapak waktu itu udah stroke, ngga bisa jalan cepat, ngga bisa nyetir mobil, ngga bisa bergerak cepat. Tiap siang dia duduk di teras, ngisi TTS, lalu sore-sore dia beli roti. Dulu Noel  suka menggambar di dekatnya, di teras.

Sebelum aku tutup tulisan ini, aku mau cerita waktu terakhir kali aku ngomong sama Bapak. Bapak sedang duduk di teras sementara kami sedang nunggu taksi datang untuk anter kami ke Bandara.  Jeffry udah duluan pindah, jadi tinggal aku dan anak-anak sekarang yang berangkat, ditemenin Mama yang ikut ke Bandara. Bapak bicara dari teras, ke anak-anak yang lagi berdiri di pagar rumahnya:

Nathan, Noel.. mau pindah yaa… Nggak ketemu Opung lagi deh… Nanti kalau kalian datang lagi ke Medan, Opung udah mati deh …

Denger itu, aku marah dan tegur Bapak. Aku kurang suka kalau Bapak singgung-singgung soal ‘mati’. Dari pagar aku sahutin Bapak:

Bapak kog ngomongnya gitu sih, jangan gitu doong … Harusnya Bapak beriman, masih bisa ketemu Nathan sama Noel dalam keadaan sehat! Harusnya Bapak bilang, datang lagi ya biar kita bisa main. Atau Bapak yang datang ke Bandung. Jangan malah ngomong kayak tadi, nanti terjadi sesuai iman Bapak itu gimana?

Bapak cuma diam aja dan senyum-senyum. Memang Bapak udah slow respon waktu itu, Lebih sering nanggepin orang dengan senyum. Dan sedihnya, omongan Bapak itu memang benar terjadi. Kami ngga bisa datang lagi ke Medan untuk Natal ataupun liburan sekolah karena terbang ke sana itu mahal, apalagi bawa 4 orang pulang pergi. Dan Bapak juga semakin ngga sehat, ngga sanggup terbang pake pesawat, ngga sanggup jalan-jalan jauh. Memang betul seperti omongannya, sekalinya kami balik ke Medan adalah karena dia meninggal.

Tiap Paskah aku mendadak cengeng karena teringat tradisi HKBP tadi. Aku ngga bisa bersihin makamnya di Minggu Paskah. Aku ngga bisa ziarah ke makamnya. Tapi aku pasti inget Bapak di hari Paskah. Tiap tahun sejak dia pergi. Tiap Natal juga aku ingat Bapak, karena dia meninggal di masa Natal.

Ada lagu kanak-kanak Sekolah Minggu yang sampe sekarang aku suka, karena ada janji bahwa Bapak (dan aku, dan kita semua yang percaya) akan bangkit lagi dan akan hidup bersama Yesus di surga.

Bapak, semoga kita ketemu lagi di rumah Yesus.

Miss you all the time – especially this time of year…

SEBAB DIA HIDUP

Anak Allah, Yesus namaNya
Menyembuhkan, menyucikan
Bahkan mati tebus dosaku
Kubur kosong membuktikan Dia hidup

S’bab Dia hidup, ada hari esok
S’bab Dia hidup, ‘ku tak gentar
Kar’na ku tahu, Dia pegang hari esok
Hidup jadi berarti s’bab Dia hidup

Ini lirik lengkapnya dalam bahasa Inggris:

BECAUSE HE LIVES 

God sent His Son, they called Him Jesus
He came to love, heal and forgive
He lived and died to buy my pardon
an empty grave is there to prove
My Savior lives

How sweet to hold our newborn baby
and feel the pride and joy He gives
But greater still that calm assurance
this Child can face uncertain days
because He lives

chorus:
Because He lives, I can face tomorrow
Because He lives, all fear is gone
Because I know, (I know) He holds the future
and life is worth the living
just because He lives

And then one day I’ll cross that river
I’ll fight life’s final war with pain
and then as death gives way to victory
I’ll see the light of glory
and I’ll know He reigns

back to Chorus.

Photo: di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, dalam perjalanan menuju Medan, tanggal 25 Desember 2009. Natal paling pilu dalam hidup saya…

Menjadi Pribadi yang Memesona – Bagaimana Caranya?

 

15822928_10212159199281659_3078133692349398104_n
Family Time January 2017

 

Bila kita bertanya pada laki-laki, seperti apakah perempuan yang #MemesonaItu? Kebanyakan dari mereka akan memberikan jawaban seputar nilai-nilai fisik: wajah cantik, kulit putih, tubuh langsing, mata indah, kaki jenjang, tinggi proporsional, dan lain-lain. Sangat berbeda bila kita bertanya pada perempuan.

Bagi saya sendiri, #MemesonaItu tak harus berkaitan dengan perihal tubuh. Seseorang bisa saja tidak cantik menurut standar dunia ini, namun ia memesona, sebab ia memiliki kepribadian yang baik dan unik yang dapat menginspirasi orang lain, sehingga ia menjadi berarti bagi orang-orang di sekitarnya.

Sebut saja pesona seorang ibu. Ia tidak harus cantik di mata dunia, namun ia cantik di mata suami dan anak-anaknya. Ia bekerja keras untuk memastikan bahwa ada cukup makanan dan pakaian untuk keluarganya sehingga mereka semua tetap kenyang dan nyaman. Ia akan menunggu saat anggota keluarganya belum tiba di rumah. Ia memastikan bahwa ia tampil cukup rapi dan terawat, tanpa harus memakai kosmetika yang mahal, agar suaminya bangga terhadap dia. Anak-anaknya tahu bahwa ia selalu ada bagi mereka.

Perempuan yang #MemesonaItu percaya bahwa ia berharga. Ia menghargai dirinya dengan baik sehingga tidak ada seorangpun yang boleh melecehkan dia atau menganggapnya rendah. Ia akan memakai pakaian yang pantas dan sopan sesuai dengan tempat yang ia datangi. Ia akan menjaga saat ia duduk, berdiri, dan berjalan, agar ia tidak memancing perhatian orang karena pakaiannya yang terlalu pendek ataupun terbuka. Perempuan yang #MemesonaItu tetap bisa terlihat menarik dengan pakaian yang sopan.

Juga, ia selalu menantang dirinya untuk melakukan lebih banyak dari yang telah dilakukannya dan selalu mengembangkan kemampuannya. Ia selalu belajar. Ia tak akan hanya berpangku tangan menunggu suaminya pulang dan memberinya uang, atau hanya menunggu akhir bulan untuk menerima gaji. Tidak. Dia akan terus mendorong drinya untuk belajar hal-hal baru ataupun meningkatkan kemampuannya yang sudah ada menjadi lebih baik lagi: memasak, menjahit, menulis, memotret, bermain musik, bernyanyi, dan lain-lain. Dia akan terus memperluas wawasannya dengan membaca buku bermutu dan menonton program yang bermanfaat, bukan sekedar sinetron tak berujung yang tak memberikan pengetahuan apapun.

Perempuan yang #MemesonaItu selalu mengambil hal-hal positf dari hal-hal yang dia alami dan orang-orang yang ia temui. Ia menerima teman-temannya apa adanya dan berusaha memahami kelebihan dan kekurangan mereka, sebab ia sadar bahwa dirinya pun bukanlah orang yang sempurna. Ia belajar menghargai orang lain, sebagaimana ia ingin dihargai.

Jadi, bagaimana caranya tampil memesona?

1. Menghargai dirnya sendiri dengan berpakaian pantas dan sopan di segala waktu.

2. Selalu belajar hal baru dan mengembangkan kemampuannya agar dapat bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan orang lain.

3. Merawat dirinya dengan baik sehingga orang dapat melihat bahwa ia sehat, kuat, dan bersemangat.

4. Percaya bahwa ia dapat melakukan tugas yang telah diambilnya dan selalu berusaha semaksimal mungkin

5. Tetap berpikir positif, apapun situasinya. Tetap berbesar hati bila ada kemalangan yang dialaminya.

6. Tidak mengeluh ataupun mengasihani dirinya sendiri atas kegagalan, sakit penyakit, dan hal-hal buruk lainnya yang ia alami.

7. Selalu bersyukur atas apa yang dia miliki, baik keluarga, keuangan, pekerjaan, dan pertemanan.

Perempuan yang #MemesonaItu tidak harus cantik apalagi sempurna. Tetapi, dia harus berharga (precious): di mata Tuhan, di mata keluarganya, di mata lingkungan dan komunitas tempat ia bergabung, dan di matanya sendiri.

17155964_10212875784395839_1870623744252674912_n

12932985_10209635208463466_8841695853840214001_n

A charming woman doesn’t follow the crowd.

She is herself.

Loretta Young, actress, singer. (1917-2000)

Melayani TUHAN, Buat Apa Sih…

004-jesus-washes-feet
sumber: briandrassy.com/sacrificial-servant-leadership

Tiap orang Kristen pasti tahu yang namanya PELAYANAN.

Orang Kristen yang semakin bertumbuh biasanya semakin aktif melayani di gerejanya. Disebutlah itu sebagai PELAYANAN. Kita yang terlibat lalu disebut PELAYAN.(Jelas bukan pelayan kafe, maksudnya).

Nah, melayani itu juga nggak gampang. Jangan dikira kita bisa untung secara materi dalam pelayanan. Justru banyak “rugi”nya.

Pertama, pasti kita “rugi waktu”. Melayani di gereja itu buang banyak waktu. Untuk nyanyi dalam kebaktian Natal misalnya, latihannya berkali-kali. Jangan pelayanan Natal dulu deh – kita sebut aja pelayanan mingguan. Paduan Suara atau pemain musik dan pemimpin pujian yang bertugas pada hari Minggu latihan dulu sebelum melayani. Minimal aja dua kali. Kalau kelompok nyanyi, bisa empat kali atau lebih. Buang waktu benar, kan? Padahal lebih enak jalan-jalan sama keluarga atau nonton sama pacar, daripada latihan di gereja.

Kedua, “rugi tenaga”. Jelas, karena kita capek. Pulang bekerja harus ke gereja buat latihan ini dan itu. Capek. Mendingan tidur. Atau makan nasi goreng di tempat langganan :D. Apa ada yang menghargai ketika kita datang tepat waktu? Belum tentu. Kadang-kadang, teman-teman sudah capek-capek datang, ternyata kita belum datang. Akibatnya latihan belum bisa dimulai dengan efektif. Memang sih setiap orang berbeda kegiatan, berbeda tempat tinggal. Ketika kita yang menunggu, bisa nggak kita tetap menghargai teman kita yang terlambat dan nggak ngedumel dalam hati? Ketika kitalah yang terlambat, bisa nggak lain kali kita berusaha atur waktu sebaik-baiknya sehingga nggak selalu datang paling akhir?

Ketiga, “rugi uang”. Ah, yang benar? Benar dong! Kan ke gereja itu butuh ongkos. Ada ongkos angkot ataupun bahan bakar. Ada ongkos makan. Gara-gara harus latihan malam hari, terpaksa makan dulu di jalan, karena nggak sempat pulang ke rumah.

Terus kalo banyak ruginya begini, ngapain juga kita harus melayani? Apa nggak lebih baik kita belajar keahlian lain? Nekunin hobby? Tidur? Jalan-jalan sama keluarga? Atau pedekate sama gebetan?

Sebenarnya kitalah yang lebih butuh pelayanan itu daripada Tuhan. Tuhan nggak butuh pelayanan. Kitalah yang butuh. Loh, kenapa? Karena dalam pelayanan, kita punya kehidupan sosial dengan sesama pengikut Kristus. Jangan salah, walau sama-sama pengikut Kristus (Kristen), belum tentu jalan pikirannya sama. Atau gairahnya. Atau ide-idenya. Atau cara yang diambil untuk melakukan satu pelayanan. Jadi, ada kemungkinan kita nggak cocok dengan seseorang. Ada kemungkinan juga kita mangkel gara-gara ide kita nggak dianggap. Di sinilah kita bertumbuh. Waktu Bapak A dengan semena-mena menghapus dana program yang udah kita siapin capek-capek, apa kita masih bisa sabar? Masih bisa nggak ngedumel di belakangnya?

Anyway, sebenarnya kita melayani karena:

  • Tuhan ciptain kita dengan berbagai karunia dan itu harus dipertanggungjawabkan. Ada yang bisanya ngatur ini itu, tapi kalo disuruh main musik mah ngga bisa, apalagi disuruh nyanyi, batuk aja fals. Jadi, kembangkan bakat organisasinya. Ada yang bisa inget orang dengan cepat, baik nama, alamat, anggota keluarganya siapa aja dan bahkan kesukaannya. Jadikan dia bagian pemerhati! Apapun karunia kita, semuanya baik! Semua bisa dipake untuk melayani. Bahkan yang cuma bisa gambar – kenapa enggak jadiin dia bagian publikasi acara-acara besar gereja? Pasti idenya lebih banyak daripada yang bisanya nyanyi malu-maluin kayak saya, 😀
  • Melayani itu bukti kita sayang sama Tuhan. Bagi yang udah nikah – pasti selalu kasih yang terbaik buat pasangannya kan. Makanan kesukaan, beliin kado juga pasti yang udah pasti dia suka. Yang masi pacaran pun sama. Selalu ingin kasih yang terbaik. Nah, Tuhan juga udah sayang sama kita, umatNya yang percaya akan penebusan oleh kematianNya. Jadi kado apa yang bisa kita kasih pada Tuhan? Tak lain cuma ketaatan kita dan pelayanan kita. Jangan lupa bahwa pelayanan ini harus dipertanggungjawabkan pada Tuhan suatu hari kelak. Seperti kisah talenta. Sang Tuan datang lagi nanyain perihal keping uang yang dia titip pada hamba-hambanya. Sama seperti itu.
  • Memang kita itu diciptakan, diselamatkan dan dipanggil untuk melayani Tuhan. Orang Kristen itu ditebus bukan supaya bisa bikin dosa lagi terus diampuni lagi. Kita ditebus supaya kita pantas melakukan pekerjaan baik yang disediain Tuhan. Pekerjaan baik itu apa aja? Ya apapun hal baik yang kita lakukan kepada orang lain untuk kemuliaan Tuhan, itulah pelayanan.

Roma 12:11
“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”

Ada yang tahu lagu ini? Yuk, kita nyanyiin dalam hati dengan sungguh-sungguh yah!

Masa hidupku* ini, kuserahkan buat Tuhan

Untuk melayaniMu, sampai akhir hidupku

Oh Tuhan, hamba lemah, b’ri kuat kuasa firmanMu

Untuk menjadi pekerjaMu.

*bisa diganti menjadi masa mudaku atau masa tuaku.

(Well, saya sendiri belum banget jadi pelayan yang baik. Tapi saya mau berusaha, baik untuk pelayanan di gereja ataupun pelayanan lewat pekerjaan paruh waktu saya sebagai penerjemah. Bila butuh artikel ini ditulis dalam bahasa resmi, boleh hubungi saya).